Gaya Hidup

Ini Alasan Muncul Rasa Menyesal setelah Melakukan 'Ghosting'

Dalam sebuah hubungan percintaan, ghosting menimbulkan perasaan campur aduk. Bahkan, rasa menyesal juga bisa dialami pelaku ghosting.
Ilustrasi korban ghosting (Foto: Anchor Therapy)

Jakarta, Jurnas.com - Dalam sebuah hubungan percintaan, ditinggalkan begitu saja tanpa kejelasan atau populer dengan sebutan ghosting, bukan hal yang mudah untuk diterima. Rasa yang muncul kemudian ialah kesal, marah, hingga sedih bercampur aduk.

Tapi, pernahkah kamu berpikir bahwa perasaan semacam itu tidak hanya dialami oleh korban ghosting? Penelitian terbaru justru menemukan bukti bahwa pelaku ghosting juga merasa bersalah.

Dalam tiga studi yang dirinci dalam publikasi 'The Pain of Ghosting?: People Underestimae How Bad Thei Conversation Partners Feel About Not Responding', meminta 195 responden termasuk korban ghosting untuk mengingat pengalaman buruk di-ghosting.

Penelitian kedua meminta 601 orang untuk membayangkan berbagai skenario ghosting dan kemudian mengisi survei tentang perasaan mereka setelahnya. Penelitian ketiga melakukan hal yang sama untuk 350 peserta penelitian yang mengalami ghosting dalam interaksi langsung.

Dikutip dari Psychology Today pada Sabtu (7/11), hasil dari ketiga studi tersebut saling mendukung. Sophia Li dan Juliana Schroeder dari University of California, dan Coral Zheng dari University of Cambridge Judge Business School menemukan bahwa banyak pelaku ghosting sebenarnya melaporkan dihantui oleh perasaan bersalah, malu, dan penyesalan. Beberapa bahkan mengalami gejala depresi.

Lebih lanjut, korban ghosting pada umumnya cenderung meremehkan seberapa buruk perasaan pihak yang melakukan ghosting. Pengabaian ini bahkan lebih besar ketika ghosting dilakukan tanpa disengaja.

Sebaliknya, pihak yang melakukan ghosting merasa lebih baik ketika mereka tidak menganggap tindakan itu sebagai ghosting, atau ketika mereka hanya menjejali korban dengan respons singkat, daripada menghilang begitu saja tanpa jejak.

Rasa Menyesal Tidak Mutlak

Namun, perlu diingat bahwa apa yang disampaikan pelaku maupun korban ghosting bisa jadi tidak selalu sesuai dengan apa yang sebenarnya mereka rasakan. Sebab, lidah bisa berbohong. Selain itu, dalam penelitian ini, responden mungkin mengingat masa lalu secara berbeda, dan memberikan respons yang berbeda ketika ditanya tentang hal itu di kemudian hari.

Selain itu, studi-studi ini dilakukan dalam kondisi eksperimental ketika orang mungkin tidak selalu berperilaku seperti biasanya. Lebih jauh lagi, hanya karena orang-orang dalam sampel merasa bersalah bukan berarti pelaku ghosting lainnya juga akan merasakan hal yang sama.

Ditambah lagi, pelaku ghosting tak menutup kemungkinan merasa lebih atau kurang buruk tentang melakukan ghosting kepada orang yang berbeda. Misalnya, seseorang mungkin merasa lebih buruk karena melakukan ghosting kepada seorang model cantik daripada kepada Anda.