Jakarta, Jurnas.com - Setiap tanggal 3 November, masyarakat dunia memperingati Hari Ubur-Ubur Sedunia (World Jellyfish Day).
Peringatan ini ditujukan untuk memberikan ruang edukasi dan apresiasi terhadap salah satu hewan purba invertebrata yang paling sering disalahpahami di ekosistem lautan.
Meski sering dianggap sebagai ancaman karena sengatannya saat berenang di pantai, ubur-ubur memiliki peran biologis dan lingkungan yang sangat vital. Lantas, mengapa tanggal 3 November dipilih sebagai momentum perayaan World Jellyfish Day dan apa makna penting di baliknya?
Alasan Pemilihan Tanggal 3 November
Inisiatif peringatan Hari Ubur-Ubur Sedunia mulai populer dan rutin dirayakan sejak tahun 2014 atas gagasan sekelompok biolog laut dan pecinta lingkungan. Pemilihan tanggal 3 November memiliki alasan geografis dan biologis yang unik.
Bulan November menandai awal musim semi di Belahan Bumi Selatan (Southern Hemisphere). Pada periode pergantian musim ini, suhu air laut mulai hangat sehingga terjadi peningkatan populasi ubur-ubur (blooming) secara masif yang mendekat ke pesisir pantai. Momentum fenomena alam rutin ini dinilai sebagai waktu paling tepat untuk mengajak masyarakat global mengenal dan mempelajari perilaku biota laut ini.
Memeluruskan Mitos dan Mendidik Masyarakat
Salah satu dorongan utama lahirnya peringatan ini adalah untuk mengatasi berbagai stigma negatif serta kesalahpahaman umum. Walau memiliki nama jellyfish dalam bahasa Inggris, hewan ini sama sekali bukan jenis ikan (fish).
Secara anatomi, ubur-ubur adalah invertebrata dari filum Cnidaria yang tidak memiliki tulang belakang, otak, jantung, insang, maupun darah. Sekitar 95 persen tubuhnya terdiri dari air. Hewan ini merespons lingkungan sekitar hanya menggunakan sistem saraf sederhana.
Keberadaan ubur-ubur jauh lebih tua daripada dinosaurus, di mana jejak fosilnya mencatat biota ini telah menghuni samudra bumi selama lebih dari 500 hingga 700 juta tahun.
Peran Vital Ubur-Ubur bagi Ekosistem dan Sains
Peringatan 3 November menegaskan pentingnya ubur-ubur dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Ubur-ubur bertindak sebagai pengontrol populasi plankton dan larva ikan kecil. Di sisi lain, ubur-ubur merupakan sumber makanan utama bagi berbagai spesies laut terancam punah, seperti penyu belimbing (leatherback sea turtle) dan beberapa jenis burung laut.
Di dunia medis dan bioteknologi modern, ubur-ubur memberikan kontribusi besar. Protein berpendar (Green Fluorescent Protein/GFP) dari spesies ubur-ubur Aequorea victoria berhasil mengantarkan para ilmuwan meraih Hadiah Nobel Kimia pada tahun 2008. Penemuan ini kini menjadi alat penting dalam riset kanker dan pemetaan sel saraf.
Menjaga Kebersihan Laut untuk Kelestarian Biota
Hari Ubur-Ubur Sedunia juga menjadi peringatan bahaya polusi plastik di samudra. Kantong plastik transparan yang terombang-ambing di laut sering kali dikira ubur-ubur oleh penyu laut. Akibatnya, penyu menelan sampah plastik tersebut hingga menyebabkan kematian.
Melalui momentum ini, masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan pesisir, membatasi penggunaan plastik sekali pakai, serta menghentikan pembuangan sampah ke aliran sungai demi menjaga kelangsungan biota laut.





