Gajah sedang memakan tumbuhan (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Gajah betina di kawasan Gunung Elgon, perbatasan Kenya dan Uganda, dilaporkan menggunakan berbagai jenis tanaman ketika menghadapi gangguan kesehatan, termasuk memberikan campuran daun, akar, dan susu kepada anaknya. Pengetahuan tentang perilaku tersebut berasal dari kesaksian warga setempat yang telah puluhan tahun mengamati kawanan gajah di habitatnya.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports pada 24 September 2026 mendokumentasikan pengetahuan masyarakat Sabaot mengenai pemanfaatan tanaman, kulit kayu, tanah, dan mineral oleh gajah di Taman Nasional Gunung Elgon. Para peneliti mengidentifikasi 35 spesies tanaman dari 23 famili, serta empat jenis sumber daya berupa tanah, mineral, atau lempung yang dilaporkan digunakan oleh gajah.
Dari keseluruhan 39 sumber daya tersebut, masyarakat setempat menganggap 25 di antaranya sebagai bahan pengobatan bagi gajah. Sebanyak 34 sumber daya juga diketahui digunakan sebagai obat oleh manusia setempat.
Meski demikian, penelitian ini didasarkan pada wawancara dan pengamatan yang dilaporkan warga, bukan pengujian klinis terhadap gajah. Khasiat medis tanaman maupun manfaat campuran yang diberikan induk kepada anaknya belum dikonfirmasi secara ilmiah.
Salah satu kesaksian berasal dari mantan petugas Kenya Wildlife Service yang bertugas di Gunung Elgon pada 1969–1996. Ia menceritakan bahwa induk gajah dapat mengunyah akar, kulit kayu, atau daun tanaman tertentu, kemudian memberikannya kepada anak yang sedang sakit.
Ia juga mengamati perilaku ketika anggota kawanan membawa ranting kepada gajah yang sakit. Gajah tersebut kemudian dilaporkan memakan kulit kayu atau daun dari tanaman yang dibawa.
Kesaksian lain menggambarkan induk gajah mengunyah daun Coleus barbatus, yang dikenal masyarakat setempat sebagai Angurweet, bersama akar tanaman lain hingga halus. Bahan tersebut kemudian dicampurkan dengan susu dan diberikan kepada anaknya.
Kenapa Banyak Hewan Besar Berasal dari Afrika?
Menurut seorang warga dari wilayah Kongit yang diwawancarai dalam penelitian, anak gajah akan mengunyah campuran itu lalu memuntahkan bagian padatnya. Ia menggambarkan perilaku tersebut sebagai semacam imunisasi.
Namun, peneliti belum memastikan komposisi campuran itu, cara kerjanya, ataupun apakah perilaku tersebut benar-benar memberikan perlindungan terhadap penyakit.
Pengamat lain dari wilayah Kapsang melaporkan bahwa induk memberikan Aloe vera kepada anaknya untuk merangsang keinginan makan. Ia juga pernah melihat gajah memakan kulit kayu Simotweet dan memberikannya kepada anak.
Laporan-laporan tersebut memperlihatkan kemungkinan adanya perilaku perawatan antargajah melalui pemberian bahan alami. Dalam penelitian ini, perilaku induk memberikan bahan kepada anak atau individu lain dibahas sebagai bentuk allocare, yakni perawatan yang dilakukan oleh individu selain penerima itu sendiri.
Penelitian dipimpin Fabien Schultz dari Bernhard Nocht Institute for Tropical Medicine di Hamburg, Jerman. Tim mewawancarai delapan laki-laki Sabaot berusia 35–78 tahun pada Oktober 2023 hingga September 2024.
Mereka terdiri atas empat pengintai satwa liar dari komunitas, dua pemandu, seorang mantan petugas pertanian, dan seorang mantan penjaga hutan. Seluruhnya telah menghabiskan lebih dari 20 tahun di sekitar kawanan gajah Gunung Elgon.
Para responden menyebut sejumlah tanaman yang menurut pengamatan mereka dimanfaatkan gajah. Dua jenis yang paling sering disebut adalah Ficus natalensis, sejenis ara, dan Croton macrostachyus, yang dikenal masyarakat Sabaot sebagai Tobosweet.
Seorang responden dari Kongit mengatakan bahwa gajah memakan daun Croton macrostachyus, sementara masyarakat setempat menggunakan sedikit kulit kayunya untuk pengobatan malaria.
Penelitian tersebut juga mengelompokkan delapan tanaman dalam kategori yang digunakan ketika hewan diduga berusaha menangani masalah kesehatan yang sedang dialami atau memberikan bahan kepada hewan lain. Tanaman yang disebut mencakup Aloe arborescens, Bersama abyssinica, dan Kuloa usambarensis.
Menurut kesaksian warga, gajah yang tampak lesu dan tidak banyak bergerak terkadang memakan Kuloa usambarensis.
Tiga tanaman dari genus Dombeya juga mendapat perhatian. Seorang pemandu mengatakan bahwa gajah mengelupas kulit batangnya untuk memakan bagian licin di antara kulit dan batang. Masyarakat setempat menggunakan bagian serupa untuk membantu mengatasi sembelit.
Peneliti turut mendokumentasikan foto batang Dombeya rotundifolia dengan bekas yang diduga berasal dari gading gajah di jalur menuju Gua Chepnyalil. Bekas tersebut menjadi petunjuk lapangan, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan tujuan medis perilaku gajah.
Kesaksian warga juga menggambarkan bagaimana kondisi tubuh gajah diduga memengaruhi pola pergerakannya ketika mencari tanaman.
Seorang responden dari Kongit mengatakan gajah yang sehat dapat berjalan sekitar 10 kilometer sehari. Sebaliknya, gajah yang sakit mungkin hanya bergerak sekitar 300 meter dalam dua hingga tiga hari.
Namun, menurut responden tersebut, jika tanaman yang dibutuhkan berada sekitar 20 kilometer dari lokasi mereka, gajah dapat bergerak langsung menuju tempat itu tanpa berhenti untuk makan di sepanjang perjalanan.
Kesaksian ini menunjukkan adanya dugaan hubungan antara perilaku mencari makan dan kondisi kesehatan. Akan tetapi, penelitian tersebut belum melacak pergerakan gajah secara sistematis untuk menguji apakah mereka sengaja menempuh jarak tertentu demi mendapatkan tanaman yang memiliki khasiat khusus.
Seorang mantan penjaga hutan juga menyebut bahwa ketika kawanan gajah menemukan kawasan dengan banyak pohon ara, mereka terkadang memakan bagian dari satu pohon saja.
“Dengan begitu, mereka tidak menyia-nyiakan obat jika membutuhkannya besok,” demikian penjelasan yang tercatat dalam catatan wawancara penelitian tersebut.
Pernyataan itu mencerminkan penafsiran responden terhadap perilaku gajah, bukan kesimpulan yang telah dibuktikan melalui eksperimen.
Selain tanaman, gajah Gunung Elgon diketahui memasuki gua untuk mencari garam dan mineral. Gunung tersebut memiliki ketinggian sekitar 4.321 meter dan menjadi habitat bagi gajah yang menambang material dari dinding gua menggunakan gadingnya.
Mount Elgon Foundation, organisasi yang mendokumentasikan gua-gua di kawasan itu, mencatat 55 gua yang digunakan gajah. Sebagian gua dimasuki hingga sekitar 160 meter ke dalam.
Gua Kitum dan Kibalo di wilayah Chesamo, misalnya, menjadi lokasi gajah mencari garam dan memakan lempung. Sementara itu, asap dari api manusia dilaporkan membuat gajah tidak lagi memasuki Gua Chemombut.
Menurut delapan responden, gajah memakan lempung terutama untuk mendapatkan garam dan zat besi, bukan sebagai obat. Gajah juga dilaporkan menggali tanah merah menggunakan gadingnya, lalu memakannya atau mengoleskannya ke tubuh.
Perilaku tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan mineral merupakan bagian penting dari cara gajah memanfaatkan lingkungan Gunung Elgon. Namun, para peneliti membedakan perilaku mencari mineral ini dari penggunaan tanaman yang oleh warga ditafsirkan sebagai pengobatan.
Pengetahuan masyarakat Sabaot mengenai tanaman yang dimanfaatkan gajah juga memiliki kaitan dengan praktik pengobatan tradisional manusia. Salah seorang responden menyebut akar Rhamnus prinoides, yang dikenal sebagai Moobarawa, digunakan masyarakat untuk menangani alergi pada anak kecil.
Ia menceritakan bahwa setelah mengambil tanaman tersebut ketika memantau kawanan gajah, ia menemukan gajah memakan tanaman yang sama pada hari berikutnya.
Pengalaman itu memperlihatkan bagaimana pengamatan terhadap satwa liar dapat menjadi sumber informasi untuk penelitian etnobotani dan perilaku pengobatan mandiri pada hewan atau zoopharmacognosy.
Penelitian sebelumnya juga mendokumentasikan perilaku serupa pada satwa lain. Pada 2024, tim peneliti yang melibatkan Elodie Freymann melaporkan bahwa simpanse yang sakit atau terluka di Uganda memakan tanaman dengan sifat pengobatan. Orangutan bernama Rakus di Sumatra juga pernah diamati mengoleskan bahan dari daun yang dikunyah pada luka di wajahnya.
Meski demikian, kesamaan perilaku tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa semua hewan memahami khasiat tanaman dengan cara yang sama.
Schultz mengatakan hasil penelitian Gunung Elgon menunjukkan eratnya hubungan antara tumbuhan di kawasan tersebut dan kesehatan gajah maupun manusia.
Para peneliti berencana menguji tanaman yang disebutkan warga di laboratorium serta melakukan pemantauan jangka panjang terhadap individu gajah. Mereka juga mencari rekaman video untuk mendokumentasikan perilaku yang dilaporkan, termasuk pemberian campuran tanaman oleh induk kepada anaknya.
Peneliti mengingatkan bahwa delapan responden yang dipilih secara khusus tidak mewakili seluruh masyarakat setempat. Penafsiran mereka juga dipengaruhi pengetahuan pengobatan yang dimiliki manusia.
Gajah Afrika sendiri berstatus terancam punah menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN). Memahami cara gajah menggunakan habitatnya, mencari mineral, dan berinteraksi dengan tumbuhan dapat memberikan informasi tambahan bagi penelitian perilaku serta upaya konservasinya.
Untuk saat ini, temuan Gunung Elgon menjadi dokumentasi penting mengenai pengetahuan lokal tentang pemanfaatan tanaman oleh gajah. Namun, pembuktian manfaat medisnya masih memerlukan penelitian lanjutan, sehingga laporan mengenai puluhan tanaman yang digunakan gajah belum dapat disamakan dengan daftar obat yang khasiatnya telah teruji. (*)
Sumber: Earth
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Gajah Afrika Tanaman Obat Perilaku Gajah Obat Alami Gunung Elgon

























