Senin, 19/10/2026 04:38 WIB

Adab Seorang Muslim saat Mendapat Nikmat dari Allah





Setiap Muslim dianjurkan untuk bersyukur ketika memperoleh nikmat dari Allah SWT.

Ilustrasi - ini adab seorang muslim ketika mendapatkan nikmat dari Allah SWT (Foto: AI)

Jakarta, Jurnas.com - Setiap Muslim dianjurkan untuk bersyukur ketika memperoleh nikmat dari Allah SWT, baik berupa kesehatan, rezeki, keluarga, maupun kemudahan dalam menjalani kehidupan.

Nikmat tersebut tidak hanya patut disyukuri melalui ucapan, tetapi juga perlu dijaga dengan perilaku yang sesuai ajaran Islam.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang terkadang lebih mudah mengingat Allah ketika menghadapi kesulitan dibandingkan saat mendapatkan kebahagiaan.

Padahal, Islam mengajarkan agar rasa syukur tetap dijaga dalam berbagai keadaan, termasuk ketika usaha membuahkan hasil atau doa yang dipanjatkan terkabul.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, `Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.`” (QS. Ibrahim: 7)

Ayat tersebut menjadi pengingat tentang pentingnya bersyukur atas segala karunia Allah SWT. Rasa syukur dapat diwujudkan dengan mengakui bahwa nikmat yang diperoleh merupakan pemberian Allah, bukan semata-mata hasil kemampuan diri sendiri.

Salah satu adab ketika memperoleh nikmat adalah mengucapkan hamdalah. Kalimat Alhamdulillah menjadi ungkapan pujian dan rasa syukur kepada Allah SWT atas kebaikan yang diterima.

Ucapan ini dapat dibiasakan ketika mendapatkan kabar baik, menyelesaikan pekerjaan, memperoleh rezeki, atau merasakan kesehatan setelah sakit.

Selain melalui ucapan, syukur juga perlu diwujudkan dalam tindakan. Ketika memperoleh rezeki yang lapang, misalnya, seorang Muslim dapat menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membantu orang yang membutuhkan, dan menunaikan kewajiban seperti zakat apabila telah memenuhi syarat. Harta yang dimiliki hendaknya tidak digunakan untuk berbuat zalim atau melakukan hal-hal yang dilarang agama.

Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 114:

فَكُلُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ حَلٰلًا طَيِّبًا وَّاشْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ

Artinya: “Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (QS. An-Nahl: 114)

Ayat tersebut mengajarkan bahwa rasa syukur juga berkaitan dengan cara seseorang memperoleh dan menggunakan rezeki. Nikmat yang diterima hendaknya dimanfaatkan melalui jalan yang halal dan membawa manfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Adab lainnya adalah menghindari kesombongan ketika mendapatkan keberhasilan. Jabatan, kekayaan, prestasi, dan pencapaian tidak seharusnya membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Sebaliknya, nikmat tersebut dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri, bersikap rendah hati, serta menghargai bantuan dan dukungan orang-orang di sekitarnya.

Seorang Muslim juga dianjurkan untuk menggunakan nikmat sesuai tujuan yang baik.

Kesehatan dapat dimanfaatkan untuk beribadah dan bekerja, ilmu pengetahuan untuk membantu sesama, sedangkan waktu luang dapat diisi dengan kegiatan yang bermanfaat.

Dengan begitu, rasa syukur tidak berhenti pada perkataan, tetapi tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

KEYWORD :

Info Keislaman Adab Seseorang Nikmat Allah Rasa Syukur




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :