Ilustrasi - bendera Iran (Foto: Reuters/Leonhard Foeger)
Jakarta, Jurnas.com - Parlemen Iran menyetujui Mehrdad Akhlaqi Ketabchi sebagai menteri pertahanan baru negara itu pada Minggu, menurut laporan lembaga penyiaran negara IRIB.
Akhlaqi memperoleh 237 suara setuju dan 15 suara menolak, tanpa suara abstain, dari total 277 suara yang diberikan dalam sidang parlemen yang digelar melalui konferensi video.
Para anggota parlemen memberikan suara setelah mendengarkan argumen dari pihak yang mendukung dan menentang Akhlaqi serta meninjau rencana kerjanya untuk Kementerian Pertahanan.
Akhlaqi menggantikan Aziz Nasirzadeh, yang tewas dalam serangan awal Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Majid Ebn al-Reza menjabat sebagai pelaksana tugas menteri pertahanan setelah Nasirzadeh meninggal dunia.
Dalam pernyataan pertamanya setelah memperoleh persetujuan parlemen, Akhlaqi mengatakan Iran telah mengambil langkah-langkah untuk mengantisipasi kemungkinan penggunaan bom GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast (MOAB) oleh AS terhadap negara itu. Bom tersebut dikenal dengan sebutan “Mother of All Bombs”.
“Kami telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menghadapi tindakan semacam itu dan terus bekerja dengan penuh keyakinan,” katanya kepada wartawan.
Akhlaqi juga memperingatkan Presiden AS Donald Trump agar mengkhawatirkan keselamatan pasukan Amerika saat meninggalkan kawasan tersebut.
“Jika dia menjatuhkan satu bom, dia harus melihat berapa banyak pasukan yang harus dibawa keluar dari kawasan itu dalam posisi horizontal,” katanya, yang tampaknya merujuk pada kemungkinan jatuhnya korban di pihak militer AS.
Ia mengeklaim bahwa persiapan Iran menjadi salah satu alasan Washington sejauh ini menahan diri untuk tidak menggunakan bom tersebut.
Namun, menurutnya, situasinya akan berbeda jika ancaman AS benar-benar diwujudkan.
Saat menyampaikan pernyataan kepada anggota parlemen sebelum pemungutan suara, Akhlaqi memperingatkan bahwa Iran akan memberikan respons “mengejutkan dan luas” jika AS dan Israel kembali menyerang negara itu.
“Jika musuh Amerika-Zionis kembali melakukan kesalahan perhitungan, respons bangsa Iran dan para pejuang Islam akan mengejutkan dan luas,” katanya. Ia menambahkan bahwa Washington dan sekutunya akan bertanggung jawab atas segala konsekuensi regional maupun internasional.
Akhlaqi juga mengatakan dirinya telah masuk dalam “daftar pembunuhan” musuh-musuhnya selama 35 tahun. Ia berjanji akan semakin memperkuat apa yang disebut Iran sebagai “front perlawanan”.
Ia menyebut perluasan produksi pertahanan di seluruh jaringan industri Iran, peningkatan riset, serta penyesuaian struktur Kementerian Pertahanan terhadap ancaman keamanan saat ini sebagai sejumlah prioritas program kerjanya.
Akhlaqi merupakan pejabat senior Kementerian Pertahanan yang telah lama berkarier di lembaga tersebut.
Ia sebelumnya memimpin Organisasi Industri Dirgantara Iran dan dikenai sanksi AS terkait keterlibatan dalam kegiatan yang berhubungan dengan program rudal Iran.
Sumber: Anadolu
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Mehrdad Akhlaqi Ketabchi Menhan Iran Konflik Timur Tengah


















