Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni Foto: SS Presiden RI)
Jakarta, Jurnas.com - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengatakan pemerintah terus berupaya menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla), meskipun upaya pemadaman menghadapi tantangan berat akibat kemarau panjang, keterbatasan sumber air hingga kondisi gambut yang mudah menyimpan bara.
Hal tersebut diasampaikan Menhut usai melakukan peninjauan ke lokasi karhutla di Jalan Ir Soekarno atau Jalan Lingkar Utara Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Kegiatan itu dilakukan setelah Menhut menyelesaikan agenda di Kabupaten Kotawaringin Barat.
“Pemerintah tidak cuci tangan, tidak lepas tangan, bahkan sebenarnya hadir semaksimal mungkin untuk memastikan bahwa api padam dan kemudian juga asap tidak membuat lebih banyak lagi masyarakat kita yang kena ISPA,” kata Menhut Raja Juli Antoni di Sampit, Sabtu malam.
Raja Juli mengakui tantangan penanganan karhutla masih besar karena hujan alami diperkirakan belum merata di Kalimantan Tengah hingga November.
Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sejumlah wilayah bahkan diperkirakan baru menerima hujan pada dasarian ketiga November.
“Bahkan, ada yang sampai akhir November, seperti di daerah Tanjung Puting itu malah dasarian ketiga November baru akan ada hujan alami,” sebutnya.
Ia menyebutkan dalam upaya penanggulangan karhutla ini pemerintah telah mengoptimalkan tiga upaya melalui jalur udara, yakni operasi modifikasi cuaca (OMC), pengembangan teknologi pembentukan awan menggunakan dry ice, serta pemadaman menggunakan helikopter water bombing.
Menhut: Masyarakat Kunci Cegah Karhutla
Operasi modifikasi cuaca dilaksanakan oleh BMKG dengan dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Kehutanan, termasuk dukungan pendanaan dari kedua instansi tersebut.
“Kita melakukan operasi modifikasi cuaca. Jadi, kalau dua hari belakangan ada terjadi hujan, itu bukan hujan alami, tetapi operasi modifikasi cuaca,” ujarnya.
Namun, pelaksanaan OMC masih bergantung pada ketersediaan bibit awan. Kondisi El Nino yang menyebabkan minimnya awan hujan menjadi kendala tersendiri, terutama di wilayah Kalimantan Tengah bagian selatan.
Pemerintah juga terus mengembangkan teknologi dry ice sebagai salah satu upaya mendukung modifikasi cuaca. Penelitian yang dilakukan BMKG bersama Thailand masih dalam tahap pengembangan dan pengujian.
Sementara itu, operasi water bombing menghadapi kendala jarak pandang yang terbatas akibat kabut asap. Raja Juli menyebutkan terdapat enam helikopter milik BNPB dan satu helikopter Kementerian Kehutanan di Kalimantan Tengah, di luar armada milik perusahaan swasta.
“Tetapi, karena jarak pandang yang terbatas, sehingga water bombing tersebut tidak bisa beroperasi. Kita tidak mau memaksakan karena apabila dipaksakan malah terjadi korban. Kita tidak akan mempertaruhkan nyawa saudara-saudara kita,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, helikopter Kementerian Kehutanan sempat bergerak dari Bandara Syamsudin Noor menuju Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan.
Meski kondisi jarak pandang di kedua lokasi tersebut dilaporkan baik, helikopter terpaksa kembali ke pangkalan karena jarak pandang di sepanjang perjalanan tidak memungkinkan untuk melanjutkan penerbangan.
Kendati demikian, menurut informasi terbaru yang ia terima, satu helikopter TNI telah dikerahkan untuk mendukung pemadaman. Selain itu, helikopter milik perusahaan swasta berhasil melakukan 16 kali pengeboman air pada hari yang sama.
Sejalan dengan itu, pihaknya akan mengupayakan penambahan armada ke Kuala Pembuang agar pemadaman dari udara dapat dilakukan di wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Penambahan armada juga akan dikoordinasikan dengan BNPB berdasarkan kebutuhan di lapangan.
Di sisi lain, ia menegaskan penanganan karhutla tidak hanya mengandalkan kekuatan udara. Personel TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, Masyarakat Peduli Api (MPA), dan relawan terus bekerja melakukan pemadaman secara langsung.
Tantangan di lapangan semakin berat karena sebagian kebakaran terjadi di lahan gambut. Api yang terlihat padam di permukaan ternyata masih menyisakan bara di bawah tanah sehingga berpotensi kembali menyala.
“Kalau kita pakai drone termal, atasnya tidak ada apa-apa, tetapi bawahnya masih merah seperti batu bara yang terbakar,” kata dia. (Ant)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni Penanganan Karhutla
















