Ilustrasi - Bendera Amerika Serikat dan Iran (Foto: Anadolu)
Jakarta, Jurnas.com - Iran dan Amerika Serikat (AS) dilaporkan masih melanjutkan komunikasi tidak langsung melalui mediasi Qatar dan Oman di tengah ketegangan kedua negara yang belum mereda. Teheran mengaku telah menyampaikan sejumlah persyaratan untuk perundingan dan kini menunggu tanggapan dari Washington.
Anggota Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Yaqoub Rezazadeh, menyampaikan hal tersebut kepada kantor berita ILNA pada Sabtu. Menurutnya, kedua pihak telah menyampaikan persyaratan masing-masing melalui negara-negara mediator.
“Kami telah menyampaikan serangkaian persyaratan, dan pihak lainnya juga telah menyampaikan serangkaian persyaratan. Sekarang kami menunggu untuk melihat apakah persyaratan yang kami sampaikan akan diterima oleh pihak Amerika,” kata Rezazadeh.
Ia menjelaskan, komunikasi tersebut melibatkan Qatar dan Oman. Proses perundingan juga berada di bawah pengawasan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, dengan pembahasan dilakukan berdasarkan persetujuan lembaga tersebut.
Pernyataan Rezazadeh menunjukkan bahwa jalur diplomatik antara Teheran dan Washington masih terbuka. Namun, belum ada kepastian mengenai apakah kedua pihak akan menyepakati persyaratan yang diajukan ataupun kapan pembicaraan lanjutan dapat berlangsung.
Rezazadeh juga meredam spekulasi mengenai kemungkinan pecahnya perang baru antara Iran dan AS dalam waktu dekat. Ia menilai prediksi yang bersumber dari pasar taruhan maupun laporan mengenai kemungkinan serangan pendahuluan Iran tidak memiliki dasar yang kuat.
Ia memperkirakan perang baru tidak akan terjadi sebelum pemilihan anggota Kongres AS dan pemilihan umum di Israel. Meski demikian, Rezazadeh mengakui bahwa kemungkinan pertempuran kembali pecah tetap ada.
Menurutnya, Iran tidak akan melancarkan serangan pendahuluan terhadap AS. Namun, Teheran akan memberikan respons apabila diserang.
Rezazadeh juga mengklaim kemampuan militer, pertahanan udara, dan angkatan laut Iran telah meningkat secara signifikan dibandingkan dengan dua putaran pertempuran sebelumnya. Klaim tersebut disampaikan oleh anggota parlemen itu dan belum disertai rincian mengenai peningkatan kemampuan yang dimaksud dalam laporan tersebut.
Kontak terbaru antara Iran dan AS dilaporkan berlangsung setelah kedua negara mencapai kesepahaman di Islamabad pada Juni untuk mengakhiri permusuhan dan membuka jalan bagi perundingan. Pakistan dan Qatar turut terlibat dalam upaya mediasi tersebut.
Berdasarkan kesepahaman itu, kedua pihak diharapkan melanjutkan pembicaraan. Namun, ketegangan kembali meningkat setelah muncul perselisihan mengenai pelaksanaan kesepakatan serta aktivitas militer yang masih berlangsung di kawasan.
Qatar dan Oman kemudian tetap menjaga komunikasi diplomatik dengan Teheran dan Washington. Kedua negara tersebut menjadi saluran penting bagi upaya diplomatik untuk mencegah eskalasi baru.
Meski komunikasi tidak langsung masih berjalan, arah hubungan Iran dan AS tetap bergantung pada kesediaan kedua pihak menerima persyaratan yang diajukan. Hingga laporan tersebut disampaikan, belum ada kepastian bahwa proses itu telah menghasilkan kesepakatan baru untuk meredakan ketegangan. (*)
Sumber: Anadolu
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Parlemen Iran AS-Iran Amerika Serikat Perang Iran


























