Drone Israel menyerang sebuah tenda pengungsi di dekat Rumah Sakit Shuhadaa Al-Aqsa di Deir al-Balah, Gaza tengah pada Senin (24/8) pagi waktu setempat (Foto: Anadolu)
Jakarta, Jurnas.com - Israel pada Sabtu (3/10) menyatakan telah berupaya membunuh pemimpin tertinggi Hamas di Jalur Gaza lewat serangan udara terhadap sebuah apartemen. Namun, pejabat lokal melaporkan serangan tersebut justru menewaskan lima orang warga, empat di antaranya adalah perempuan.
Serangan sebelum fajar tersebut terjadi bertepatan dengan peringatan kalender Yahudi atas serangan 7 Oktober 2023, hari paling mematikan bagi Israel yang kemudian membalasnya dengan invasi brutal di Gaza.
Militer Israel mengeklaim serangan itu menargetkan Ali Al-Amoudi, yang disebut sebagai "tangan kanan" mendiang kepala Hamas Yahya Sinwar. Israel menudingnya terlibat dalam perencanaan serangan 7 Oktober.
Israel saat ini tengah meninjau apakah serangan tersebut berhasil membunuh atau hanya melukai Al-Amoudi.
Militer berdalih menargetkan Al-Amoudi setelah mengetahui keberadaannya di dalam gedung apartemen, seraya menuding Hamas kembali menggunakan warga sipil sebagai tameng hidup.
"Saat ini, Al-Amoudi adalah tokoh paling senior Hamas di Jalur Gaza dan terlibat langsung dalam aktivitas teror serta membangun kembali organisasi tersebut untuk perang. Teroris ini diserang guna menghilangkan ancaman," bunyi pernyataan militer Israel.
"Langkah-langkah telah diambil untuk mengurangi bahaya bagi warga sipil, termasuk penggunaan amunisi presisi," tambah militer Israel, yang juga mengaku "menyesalkan dampak kerugian terhadap individu yang tidak terlibat."
Sebelumnya, Israel membunuh Sinwar di Gaza pada Oktober 2024, sebuah peristiwa yang dianggap banyak warga Israel sebagai kemenangan simbolis. Kendati demikian, Israel bersumpah untuk terus menghancurkan Hamas meskipun gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat (AS) telah dideklarasikan setahun lalu.
Amoudi saat ini dianggap sebagai tokoh utama Hamas di Jalur Gaza. Sementara itu, pemimpin gerakan tersebut, Khalil Al-Hayaa, tinggal di Qatar dan terus berupaya melakukan manuver diplomatik demi kepentingan Hamas.
Pada bulan Juli lalu, Hayaa menyetujui rencana AS agar Hamas menyerahkan senjatanya. Langkah ini dipuji oleh Presiden Donald Trump sebagai sebuah terobosan, namun ditolak oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menganggapnya tidak tulus.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Serangan Israel Pemimpin Hamas Ali Al Amoudi




















