UNICEF membuka sekolah darurat di Yaman yang terdampak konflik (Foto: Anadolu)
Jakarta, Jurnas.com - Sekitar 79.000 anak terpaksa mengungsi di wilayah barat Yaman dalam waktu kurang dari sebulan akibat kembali meningkatnya pertempuran antara pasukan pemerintah dan kelompok Houthi.
UNICEF memperingatkan eskalasi tersebut semakin memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah berlangsung lama di negara itu.
Badan anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut menyebut lebih dari 145.000 orang mengungsi sepanjang 3–30 September, termasuk sekitar 79.000 anak.
"Di seluruh wilayah barat Yaman, permusuhan yang kembali terjadi dan perubahan garis depan telah memperdalam krisis kemanusiaan yang sudah sangat parah," kata UNICEF dalam laporan yang dirilis Kamis (1/10).
Pertempuran dilaporkan kembali meningkat di Provinsi Taiz dan Al Hudaydah, wilayah pesisir barat serta daerah sekitarnya. Kondisi tersebut memaksa keluarga meninggalkan rumah, harta benda dan sumber penghidupan mereka.
Bagi ribuan anak, perpindahan tersebut berarti kembali menghadapi situasi yang tidak pasti. UNICEF mengatakan sejumlah keluarga yang mengungsi kini tinggal di kamp-kamp yang padat dengan akses terbatas terhadap air bersih, layanan kesehatan dan kebutuhan dasar lainnya.
Sebagian keluarga bahkan tiba di lokasi pengungsian hanya dengan pakaian yang mereka kenakan.
UNICEF menegaskan eskalasi terbaru terjadi ketika kebutuhan kemanusiaan di Yaman sudah berada pada tingkat yang sangat tinggi.
"Lebih dari 12 juta anak di Yaman membutuhkan bantuan kemanusiaan," kata badan PBB tersebut.
Angka itu menunjukkan besarnya tekanan yang dihadapi anak-anak di tengah konflik berkepanjangan. Ketika keluarga kembali dipaksa meninggalkan tempat tinggal mereka, kebutuhan terhadap makanan, air bersih, layanan kesehatan, perlindungan serta bantuan kemanusiaan ikut meningkat.
UNICEF menyatakan terus memberikan dukungan kepada masyarakat terdampak dan menyerukan agar akses kemanusiaan yang aman dapat diberikan kepada anak-anak serta keluarga yang paling membutuhkan.
Eskalasi di wilayah barat Yaman juga mendapat perhatian Utusan Khusus PBB untuk Yaman Hans Grundberg. Pada Kamis, Grundberg menyerukan penghentian pertempuran di Provinsi Taiz serta meminta agar warga sipil dan infrastruktur sipil dilindungi.
Dalam beberapa hari terakhir, Yaman mengalami salah satu eskalasi militer terluas antara pasukan pemerintah dan Houthi dalam kurun tiga pekan.
Peningkatan pertempuran tersebut merupakan bagian dari eskalasi yang telah berlangsung sejak Juli dan disebut sebagai yang paling intens sejak situasi relatif tenang setelah gencatan senjata pada April 2022.
Pertempuran semakin meningkat pada September. Houthi kemudian menguasai sejumlah lokasi penting di Provinsi Al Hudaydah dan Taiz, termasuk kota strategis Mokha. Eskalasi juga meluas hingga Pulau Mayun yang berada di sekitar Selat Bab el-Mandeb.
Yaman telah berada dalam konflik sejak Houthi merebut ibu kota Sanaa dan sejumlah provinsi pada September 2014. Pada Maret 2015, koalisi yang dipimpin Arab Saudi melakukan intervensi militer untuk mendukung pemerintah Yaman.
Meski konflik sempat memasuki periode relatif tenang setelah gencatan senjata pada 2022, perkembangan terbaru kembali meningkatkan tekanan terhadap penduduk sipil.
Di tengah situasi tersebut, UNICEF memperingatkan bahwa anak-anak menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap dampak langsung maupun tidak langsung dari pertempuran. (*)
SUmber: Anadolu
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Konflik Yaman UNICEF Yaman Anak Mengungsi Perlindungan Anak


























