Senin, 28/09/2026 19:12 WIB

PBB Minta Dunia Lindungi Frekuensi Radio Pemantau Cuaca





Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak perlindungan terhadap spektrum frekuensi radio yang digunakan untuk prakiraan cuaca hingga sistem peringatan dini

Logo PBB (Foto: Beapeacekeeper)

Jenewa, Jurnas.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak perlindungan terhadap spektrum frekuensi radio yang digunakan untuk prakiraan cuaca, sistem peringatan dini, pemantauan iklim, hingga pengelolaan air dari ancaman gangguan teknologi baru yang kian marak.

Lembaga telekomunikasi dan meteorologi PBB memperingatkan bahwa pesatnya penggunaan frekuensi oleh layanan komunikasi radio lain, termasuk jaringan nirkabel dan satelit, meningkatkan risiko interferensi pada pita frekuensi vital.

Dikutip dari AFP pada Senin (28/9), gangguan sinyal tersebut dinilai berpotensi merusak pengukuran, menurunkan kualitas data, serta mengganggu keakuratan laporan cuaca dan peringatan bencana.

Dalam seminar pakar yang digelar di Jenewa, Persatuan Telekomunikasi Internasional (ITU) bersama Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyerukan kepada seluruh pemerintah dan otoritas regulator untuk menjaga akses frekuensi meteorologi.

Berbagai infrastruktur vital seperti radar cuaca, sistem pelacak petir, pengamatan penerbangan dan maritim, serta pemantauan hidrologi sangat bergantung pada spektrum ini.

"Saat kita berbicara, satelit sedang mengukur perubahan di lautan dan atmosfer kita," kata Kepala ITU, Doreen Bogdan-Martin.

Bogdan-Martin menekankan bahwa kebersihan spektrum sangat menentukan keselamatan publik. Menurut dia, spektrum yang bebas interferensi menjaga prakiraan cuaca tetap akurat, peringatan darurat dan peringatan dini tepat waktu, serta data iklim andal sehingga masyarakat dapat bersiap, merespons, dan membangun ketahanan.

"Mencegah interferensi radio yang merugikan adalah masalah keselamatan publik dan dapat menyelamatkan nyawa," dia menambahkan.

Sementara itu, Kepala WMO Celeste Saulo menjelaskan mekanisme pengamatan yang selama ini dilakukan. Dia menyebut badai kerap kali mengirimkan sinyal alami, yang dapat dimanfaatkan sebagai langkah preventif.

"Badai mengungkapkan dirinya dalam sinyal alami lemah yang dipancarkannya dan dalam gema yang dikembalikan oleh sinyal yang kita kirimkan untuk membuktikannya," ujar dia.

Saulo memaparkan bahwa proses ini terjadi akibat adanya hubungan fisik antara ukuran tetesan air dan kristal es di awan dengan spektrum frekuensi. Menurutnya, frekuensi tersebut memungkinkan pengamatan yang tidak dapat disediakan oleh frekuensi lain.

"Oleh karena itu, pita frekuensi ini harus dilindungi," kata Saulo.

KEYWORD :

Frekuensi Radio PBB Pemantauan Cuaca Dunia Interferensi Sinyal Radio




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :