Selasa, 15/09/2026 15:37 WIB

Pemerintah Garansi BBM Bersubsidi Tidak Akan Hingga Akhir 2026





Bahlil menjelaskan ketegangan di Timur Tengah yang membuat terhambatnya rantai pasok perdagangan minyak dunia

Ilustrasi distribusi BBM bersubsidi. (Istimewa)

Jakarta, Jurnas.com - Pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menggarnsi jika harga BBM subsidi tidak bakal naik hingga akhir tahun 2026 ini, meski harga minyak dunia diproyeksikan masih akan berfluktuasi hingga akhir tahun mendatang.

Bahlil menjelaskan ketegangan di Timur Tengah yang membuat terhambatnya rantai pasok perdagangan minyak dunia akibat penutupan Selat Hormuz menjadi salah satu faktor yang mengerek harga minyak dunia.

Hal tersebut turut membawa dampak terhadap beban fiskal pemerintah dalam penyediaan BBM subsidi.

"Kita sudah berkomitmen untuk harga (BBM) subsidi sampai 31 Desember berapapun harganya (minyak) di dunia, tidak akan kita naikkan," ujar Bahlil.

Harga minyak dunia saat ini telah mencapai USD106 dolar per barel. Sementara harga rerata acuan nasional dari Januari-September berada di kisaran USD85-90 dolar per barel. Adapun target dari APBN, lebih rendah lagi yaitu USD70 dolar per barel.

"Jadi bayangkan berapa subsidi kita. Saya katakan ke Presiden, energi ini urusan orang banyak. Kita harus mampu mengambil kebijakan, sekalipun kondisi global luar biasa, tapi kepastian harga harus kita jamin," lanjut Bahlil.

Pembengkakan beban subsidi ini juga ditambah lagi dengan kondisi lifting minyak di Indonesia yang terus mengalami penyusutan sejak puncaknya pada tahun 1996-1997 lalu. Lifting minyak Indonesia berada di posisi 600-610 barel per hari.

Sementara kebutuhan minyak nasional per hari tembus 1,6 juta barel. Sehingga Pemerintah perlu melakukan impor minyak sekitar 1 juta barel per hari. Pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak dunia menjadi kombinasi yang berpotensi membebani APBN.

 

KEYWORD :

Bahlil Lahadalia BBM Bersubsidi Minyak Dunia




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :