Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (Foto: Anadolu)
Jakarta, Jurnas.com - Kuwait mengecam keras tindakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang memasuki wilayah Suriah di Gunung Hermon dan mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) mengambil langkah untuk menghentikan serangan Israel terhadap kedaulatan Suriah.
Kementerian Luar Negeri Kuwait dalam pernyataannya pada Kamis (10/9) menyebut masuknya Netanyahu ke wilayah Suriah sebagai tindakan ilegal sekaligus pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah negara Arab tersebut.
Netanyahu mengunjungi kawasan Gunung Hermon yang diduduki Israel pada Rabu (9/9) bersama Menteri Pertahanan Israel Israel Katz. Kunjungan tersebut dinilai sejumlah pengamat sebagai bagian dari kampanye Netanyahu menjelang pemilihan Knesset yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober.
Kementerian Luar Negeri Kuwait menyebut tindakan Netanyahu sebagai "pelanggaran terang-terangan" terhadap hukum internasional. Kuwait juga menilai berlanjutnya serangan dan penyusupan Israel ke wilayah Suriah merupakan eskalasi yang mengancam keamanan dan stabilitas kawasan.
Kuwait kembali menegaskan dukungan penuh terhadap kemerdekaan dan kedaulatan Suriah atas seluruh wilayahnya.
"Kuwait menyerukan Dewan Keamanan PBB untuk memenuhi tanggung jawabnya dengan menghentikan serangan dan memastikan kepatuhan Israel terhadap resolusi internasional yang relevan," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Kuwait.
Kuwait juga menekankan pentingnya penghormatan terhadap Perjanjian Pemisahan Pasukan 1974 antara Suriah dan Israel.
Kecaman terhadap kunjungan Netanyahu juga datang dari pemerintah Suriah. Kementerian Luar Negeri Suriah pada Rabu menyebut masuknya Netanyahu ke wilayah tersebut sebagai tindakan ilegal dan provokatif yang melanggar kedaulatan, integritas wilayah, serta hukum internasional.
Yordania juga mengecam langkah tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Suriah serta hukum internasional.
Sementara itu, Netanyahu menyampaikan pernyataannya melalui video yang direkam ketika berada di Gunung Hermon. Mengenakan rompi antipeluru, Netanyahu mengatakan dirinya berdiri di puncak Gunung Hermon menjelang Tahun Baru Yahudi sambil menunjuk ke arah Damaskus, Lebanon, dan Dataran Tinggi Golan Suriah.
Netanyahu mengklaim Israel telah memiliki "kendali mutlak" yang belum pernah terjadi sebelumnya atas wilayah yang membentang dari Gunung Hermon menuju Sungai Yarmouk.
Ia juga mengatakan Israel tidak akan membiarkan "pasukan teroris" membangun kehadiran di dekat perbatasannya.
Katz memberikan pernyataan serupa terkait keberadaan Israel di kawasan tersebut. Dalam video terpisah, ia menegaskan bahwa Israel bermaksud mempertahankan pendudukannya.
"Kami berada di sini di Gunung Hermon, dan kami tidak akan bergerak dari sini," kata Katz.
Gunung Hermon berada di kawasan strategis yang berkaitan dengan Dataran Tinggi Golan. Israel menduduki Dataran Tinggi Golan Suriah sejak 1967 dan pada 1981 secara sepihak menganeksasi wilayah tersebut. Aneksasi itu tidak diakui oleh masyarakat internasional.
Langkah terbaru Netanyahu di Gunung Hermon kembali memunculkan kecaman dari negara-negara di kawasan. Kuwait menilai tindakan tersebut bukan hanya persoalan kedaulatan Suriah, tetapi juga berpotensi memperburuk keamanan dan stabilitas regional.
Karena itu, Kuwait meminta DK PBB menjalankan tanggung jawabnya untuk menghentikan serangan Israel di wilayah Suriah serta memastikan penghormatan terhadap resolusi internasional dan Perjanjian Pemisahan Pasukan 1974. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Kemlu Kuwait Benjamin Netanyahu Gunung Hermon DK PBB Serangan Israel

























