Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Fraksi Golkar, Singgih Januratmoko. (Foto: Fraksi Golkar)
Jakarta, Jurnas.com - Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Singgih Januratmoko menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu terus dilanjutkan karena tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian daerah.
Menurut Singgih, keberlanjutan program MBG dapat menciptakan pasar yang lebih pasti bagi produk peternakan rakyat, terutama ayam dan telur. Hal ini seiring dengan meningkatnya kebutuhan bahan pangan untuk memenuhi program tersebut.
“Kalau dapur MBG mengambil telur dan ayam dari peternak sekitar, manfaatnya bukan hanya anak-anak mendapatkan makanan bergizi, peternak pun mendapatkan pasar, UMKM mendapatkan pekerjaan, distribusi bergerak, dan ekonomi daerah ikut tumbuh,” kata Singgih dalam keterangan resminya, Kamis (10/9).
Dia mengatakan kepastian serapan produk peternakan menjadi penting mengingat salah satu persoalan yang kerap dihadapi peternak adalah fluktuasi harga ayam dan telur.
Saat produksi melimpah sementara daya serap pasar terbatas, harga di tingkat peternak dapat mengalami penurunan. Kondisi tersebut pada akhirnya berpengaruh terhadap keberlangsungan usaha peternakan rakyat.
“Kalau serapan produk ayam dan telur meningkat secara konsisten melalui MBG, ini bisa menjadi salah satu instrumen untuk menjaga keseimbangan supply dan demand,” ujarnya.
Karena itu, Singgih mendorong agar manfaat ekonomi dari program MBG tidak berhenti pada penyediaan makanan bergizi, tetapi juga dirasakan secara luas oleh pelaku ekonomi di daerah.
Dia meminta pemerintah memastikan rantai pasok MBG memberikan ruang yang cukup bagi peternak rakyat, koperasi, BUMDes, dan UMKM lokal.
Menurutnya, pengadaan bahan pangan untuk dapur MBG jangan sampai hanya didominasi perusahaan besar. Pelibatan pelaku usaha lokal justru dapat memperkuat ekosistem ekonomi di sekitar lokasi pelaksanaan program.
Singgih menilai pola pengadaan berbasis wilayah juga dapat memangkas rantai distribusi sekaligus membuat perputaran uang dari program MBG lebih banyak bertahan di daerah.
“Jangan sampai program sebesar MBG justru membuat peternak rakyat hanya menjadi penonton. Harus ada desain agar bahan baku seperti telur dan ayam sebanyak mungkin bisa diserap dari peternak lokal,” tegasnya.
Dengan pola tersebut, kata Singgih, MBG dapat menjadi instrumen yang tidak hanya menyasar persoalan gizi, tetapi sekaligus memperkuat produksi pangan, membuka lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di daerah.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Warta DPR Komisi VIII Singgih Januratmoko program MBG peternak rakyat ekosistem ekonomi





















