Senin, 07/09/2026 01:43 WIB

Mengapa Hari Membeli Buku Diperingati Setiap 7 September?





Peringatan ini bukan sekadar ajakan untuk belanja, melainkan aksi nyata dalam memberikan dukungan langsung kepada industri literasi.

Ilustrasi - seorang sedang membaca buku di perpustakaan yang ada di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (Foto: Vaza/Jurnas.com)

Jakarta, Jurnas.com - Di era serbadigital saat ini, membaca buku sering kali tergeser oleh kepraktisan mengonsumsi konten singkat di media sosial atau membaca artikel di layar ponsel.

Untuk merawat kembali budaya literasi fisik serta menjaga kelangsungan ekosistem perbukuan, masyarakat internasional memperingati Hari Membeli Buku (Buy a Book Day) setiap tanggal 7 September.

Peringatan ini bukan sekadar ajakan untuk belanja, melainkan aksi nyata dalam memberikan dukungan langsung kepada industri literasi.

Inisiatif peringatan ini berawal dari gagasan seorang penulis genre fantasi dan mantan editor senior asal Amerika Serikat, Philip Athans, pada bulan Agustus 2010.

Ketika ekonomi global dan industri penerbitan terdampak krisis, penjualan buku fisik mengalami penurunan drastis karena dianggap sebagai kebutuhan sekunder.

Athans kemudian mengusulkan sebuah gerakan bertajuk Buy a Book Day—sesebuah dorongan sederhana agar masyarakat secara serentak membeli setidaknya satu buku fisik baru.

Gerakan ini mulai luas dikenal dan rutin diperingati setiap tanggal 7 September sejak 2012, tepat sehari setelah peringatan Hari Membaca Buku (National Read a Book Day) pada 6 September.

Ada beberapa alasan kuat mengapa tanggal ini dirayakan dan mengapa aksi membeli buku terasa begitu penting. Alasan utamanya adalah dampak finansial langsung terhadap para pencipta karya dan toko buku lokal.

Ketika seseorang membeli buku baru, pembeli berkontribusi langsung pada royalti penulis dan pendapatan penerbit yang menggerakkan ekosistem perbukuan.

Toko-toko buku independen, yang kerap menjadi ruang interaksi budaya dan diskusi komunitas di berbagai kota, sangat bergantung pada penjualan ini agar tidak terancam gulung tikar akibat gempuran digitalisasi.

Selain dampak ekonomi bagi industri literasi, peringatan ini bertujuan mengingatkan masyarakat akan manfaat sensorik dan mental dari membaca buku fisik.

Pengalaman memegang buku, membalik lembaran kertas, dan fokus tanpa gangguan notifikasi layar terbukti secara ilmiah membantu mengurangi stres, meningkatkan daya ingat, serta melatih daya konsentrasi.

Peringatan 7 September ini memanggil para pembaca untuk kembali mendatangi toko buku terdekat, membelikan buku sebagai hadiah untuk orang terdekat, atau sekadar menambah koleksi baru di rak rumah.

KEYWORD :

Hari Membeli Buku 7 September Peringatan Dunia Bulan September




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :