Senin, 07/09/2026 22:40 WIB

Fenomena Langit September 2026, Ada Penampakan Venus hingga Harvest Moon





Menariknya, sebagian besar fenomena tersebut tidak butuhkan teleskop. Dengan mengetahui waktu dan arah yang tepat, pengamatan bisa dilihat dengan mata telanjang

September 2026 menjadi salah satu bulan yang menarik bagi pengamat langit, salah satunya ada Harvest Moon pada 26 September (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - September 2026 menjadi salah satu bulan yang menarik bagi pengamat langit. Sejumlah fenomena astronomi dapat diamati dalam rentang waktu hampir dua pekan, mulai dari Bulan yang melintas dekat bintang-bintang terang, Venus yang mencapai puncak kecerlangan, hingga Harvest Moon yang muncul berdekatan dengan Saturnus dan Neptunus.

Menariknya, sebagian besar fenomena tersebut tidak membutuhkan teleskop. Dengan mengetahui waktu dan arah yang tepat, pengamatan bisa dilakukan hanya dengan mata telanjang.

NASA melalui panduan pengamatan langit September 2026 menyoroti sejumlah momen yang layak diperhatikan. Bagi pemula, rangkaian fenomena ini juga bisa menjadi kesempatan untuk mulai mengenali objek-objek terang di langit malam.

Dikutip dari Earth, pada 14-20 September, Bulan akan membantu menunjukkan sejumlah objek yang mudah dikenali di langit selatan setelah Matahari terbenam.

Sekitar satu jam setelah Matahari terbenam, posisi Bulan dapat digunakan sebagai acuan untuk menemukan beberapa landmark langit. Posisi Bulan akan bergeser dari malam ke malam terhadap latar belakang bintang, sehingga pemandangannya juga terus berubah.

Salah satu objek yang akan dilewati Bulan adalah Antares, bintang terang berwarna kemerahan di rasi Scorpius. Antares dikenal sebagai salah satu bintang paling menonjol di kawasan tersebut dan menandai bagian jantung Scorpius.

Bulan juga akan melintas dekat pola bintang yang dikenal sebagai Teapot atau teko teh di rasi Sagittarius. Susunan sejumlah bintang di kawasan itu membentuk pola menyerupai teko, lengkap dengan bagian yang tampak seperti pegangan, tutup, dan cerat.

Di lokasi dengan langit yang benar-benar gelap, pengamat bahkan dapat melihat cahaya samar yang seolah-olah keluar dari cerat Teapot. Arah cahaya tersebut mengantarkan pandangan menuju bagian paling tebal dari jalur Bima Sakti, kawasan yang mengarah ke pusat galaksi.

Perhatian kemudian beralih ke langit barat pada 18 September. Venus akan mencapai puncak kecerlangan dalam penampakan sore tersebut.

Tak lama setelah Matahari terbenam, Venus akan tampak sebagai titik cahaya yang sangat terang dan rendah di atas ufuk barat. Planet ini bahkan akan terlihat lebih terang dibandingkan bintang-bintang di sekitarnya sehingga relatif mudah dikenali.

Tantangan utamanya justru terletak pada posisinya yang rendah. Pengamatan akan lebih mudah dilakukan dari lokasi yang memiliki pandangan terbuka ke arah barat tanpa terhalang bangunan, pepohonan, atau objek lain.

Bagi pemula, kemunculan Venus juga menjadi pengingat bahwa titik cahaya terang di langit malam tidak selalu merupakan bintang. Planet seperti Venus dapat tampak sangat mencolok di antara bintang-bintang.

Sehari setelah Venus mencapai kecerlangan maksimum, perhatian beralih kepada Bulan.

Pada 19 September berlangsung International Observe the Moon Night, kegiatan pengamatan Bulan yang mengajak masyarakat di berbagai negara untuk mengamati satelit alami Bumi sekaligus mengenal lebih jauh ilmu pengetahuan, eksplorasi, dan peran Bulan dalam berbagai kebudayaan.

NASA menyebut pengamatan dapat dilakukan dari mana saja. Karena Bulan merupakan salah satu objek langit paling mudah ditemukan, momen ini juga cocok bagi orang yang baru mulai tertarik mengamati langit malam.

Rangkaian fenomena pada pertengahan September membuat beberapa malam berturut-turut menjadi waktu yang menarik untuk melihat ke langit. Venus mencapai kecerlangan maksimum pada 18 September, disusul International Observe the Moon Night pada 19 September, sebelum fenomena lain muncul menjelang akhir bulan.

Pada 22 September, fenomena astronomi lain akan terjadi ketika Matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa. Peristiwa ini dikenal sebagai ekuinoks September.

Ekuinoks menandai awal musim gugur di Belahan Bumi Utara dan awal musim semi di Belahan Bumi Selatan. Di sekitar waktu tersebut, durasi siang dan malam di berbagai wilayah Bumi menjadi relatif berdekatan.

Setelah ekuinoks, perubahan durasi siang dan malam akan semakin terasa. Belahan Bumi Utara bergerak menuju periode dengan siang yang lebih pendek, sedangkan Belahan Bumi Selatan memasuki periode dengan durasi siang yang semakin panjang.

Perubahan itu terjadi pada saat yang sama secara astronomis, meski dampaknya berbeda di dua belahan Bumi.

Fenomena lain yang menarik terjadi pada 26 September ketika Harvest Moon terbit di arah timur tak lama setelah Matahari terbenam.

Bulan purnama tersebut akan ditemani Saturnus dan Neptunus. Ketiganya akan tampak membentuk pola segitiga yang cukup lebar di langit.

Dari ketiga objek tersebut, Saturnus menjadi target yang lebih mudah. Planet bercincin itu cukup terang untuk diamati dengan mata telanjang sehingga tidak membutuhkan teleskop atau teropong.

Bulan yang sangat terang juga dapat menjadi titik awal untuk menentukan kawasan langit tempat Saturnus berada. Bagi pengamat pemula, kombinasi Bulan dan Saturnus membuat pengamatan pada malam tersebut relatif mudah dimulai.

Berbeda dari Saturnus, Neptunus tidak dapat dengan mudah dilihat menggunakan mata telanjang. Pengamatan planet yang jauh tersebut membutuhkan teropong atau teleskop.

Kondisi langit yang gelap dan cuaca yang mendukung akan membantu pengamat menemukan Neptunus. Karena jauh lebih redup dibandingkan Bulan dan Saturnus, planet ini menjadi target yang lebih menantang.

Justru di sinilah menariknya fenomena 26 September. Bulan menyediakan titik acuan yang sangat mudah ditemukan, Saturnus menjadi sasaran yang bisa diamati tanpa alat, sedangkan Neptunus menawarkan tantangan tambahan bagi pengamat yang memiliki peralatan optik.

Rangkaian fenomena langit September 2026 menunjukkan bahwa menikmati astronomi tidak selalu membutuhkan teleskop mahal.

Bulan dapat menjadi penunjuk untuk menemukan Antares dan pola Teapot. Venus akan menjadi objek paling mencolok di langit barat setelah Matahari terbenam, sementara Saturnus dapat diamati tanpa alat bantu pada akhir bulan.

Bahkan Bima Sakti dapat terlihat dari lokasi dengan kondisi langit yang cukup gelap. Yang dibutuhkan terutama adalah waktu yang tepat, arah pandang yang sesuai, serta lokasi yang minim polusi cahaya.

Perubahan posisi Bulan dari satu malam ke malam berikutnya juga memperlihatkan bahwa langit bukanlah pemandangan yang statis. Dalam beberapa malam saja, posisi Bulan terhadap bintang-bintang di belakangnya dapat berubah secara jelas.

Bagi orang yang jarang memperhatikan langit, September 2026 menawarkan sejumlah kesempatan untuk memulai mengenali objek-objek tersebut. Begitu juga bagi pengamat langit, September 2026 jadi salah satu momen yang dinantikan untuk menikmati berbagai fenomena langit tersebut. (*)

Sumber: Earth

KEYWORD :

Fenomena Langit September 2026 Saturnus dan Neptunus Harvest Moon




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :