Foto: Ilustrasi Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia. (Gemini)
Jakarta, Jurnas.com - Upaya dunia memperbaiki kualitas udara menghadapi ancaman baru. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan bahwa kebakaran hutan yang semakin ekstrem dan gelombang panas dapat memperburuk polusi udara sekaligus meningkatkan risiko terhadap kesehatan manusia dan ekosistem.
Dalam Air Quality and Climate Bulletin terbaru, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut menyoroti hubungan erat antara perubahan iklim dan polusi udara. WMO menyerukan kebijakan yang lebih terkoordinasi karena perubahan iklim tidak hanya meningkatkan risiko cuaca ekstrem, tetapi juga dapat memperburuk kualitas udara.
Salah satu perhatian terbesar adalah asap kebakaran hutan. WMO menyebut kejadian ekstrem akibat asap kebakaran telah meningkat tiga kali lipat secara global sejak 1990-an.
Dampaknya terhadap kesehatan juga tidak kecil. Sebuah studi yang dikutip dalam laporan tersebut memperkirakan polusi akibat kebakaran berkontribusi terhadap hampir 100.000 kematian tambahan setiap tahun selama periode 2010-2018.
WMO juga memperingatkan bahwa angka kematian yang selama ini dikaitkan dengan kebakaran hutan kemungkinan masih diremehkan.
Model risiko konvensional dapat meremehkan kematian yang disebabkan kebakaran hingga 93 persen karena belum sepenuhnya memperhitungkan tingkat toksisitas partikel halus yang berasal dari asap kebakaran.
Partikel tersebut dikenal sebagai PM2.5, yakni partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Ketika konsentrasi PM2.5 meningkat akibat asap kebakaran, paparan terhadap polusi udara dapat menjadi persoalan kesehatan yang lebih serius.
Kondisi ini juga membuat target peningkatan kualitas udara semakin sulit dicapai. WMO menyatakan pemenuhan pedoman kualitas udara yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akan semakin menantang karena cuaca ekstrem yang mendukung kebakaran diperkirakan meningkat pada masa mendatang.
Ancaman kualitas udara tidak hanya berasal dari kebakaran hutan. Gelombang panas juga dapat meningkatkan pencemaran ozon di permukaan tanah.
Suhu yang lebih tinggi, kondisi udara yang stagnan, serta paparan sinar matahari yang intens menciptakan kondisi yang mendukung pembentukan ozon permukaan.
Ozon di lapisan atmosfer tertentu berperan penting melindungi Bumi dari radiasi ultraviolet. Namun, ozon yang berada di dekat permukaan tanah merupakan polutan udara yang dapat membahayakan kesehatan ketika konsentrasinya tinggi.
WMO memperkirakan risiko kesehatan akibat polusi ozon akan semakin meningkat. Kondisi tersebut berpotensi berkontribusi terhadap puluhan ribu kematian dini tambahan.
Peringatan WMO memperlihatkan bahwa perubahan iklim dan kualitas udara tidak dapat dipandang sebagai dua persoalan yang sepenuhnya terpisah.
Suhu yang semakin tinggi dan kondisi cuaca yang mendukung kebakaran dapat meningkatkan sumber polusi. Pada saat yang sama, polusi udara juga memiliki dampak terhadap atmosfer dan sistem iklim.
Karena itu, WMO mendorong kebijakan yang mampu menangani perubahan iklim sekaligus polusi udara secara bersamaan. Pemantauan kualitas udara juga dinilai perlu diperkuat agar perubahan konsentrasi polutan dapat diketahui dengan lebih baik.
Selain PM2.5 dan ozon, WMO menyerukan peningkatan pemantauan terhadap polutan lain, termasuk karbon hitam dan mikroplastik atmosfer.
Peningkatan kejadian asap kebakaran dan memburuknya polusi ozon menunjukkan bahwa perbaikan kualitas udara menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Kebakaran yang lebih ekstrem dapat menghasilkan paparan asap dalam skala luas, sementara gelombang panas dapat menciptakan kondisi yang membuat polusi ozon semakin mudah terbentuk.
WMO menilai perkembangan tersebut berisiko menghambat kemajuan global dalam meningkatkan kualitas udara dan melindungi kesehatan manusia serta ekosistem.
Dengan perubahan iklim yang diperkirakan terus memengaruhi pola cuaca ekstrem, pengendalian polusi udara tidak lagi cukup hanya berfokus pada sumber emisi dalam kondisi normal. Pemantauan, kebijakan iklim, dan strategi pengendalian polusi perlu berjalan secara bersamaan untuk menghadapi risiko yang semakin besar. (*)
Sumber: Anadolu
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Organisasi Meteorologi Dunia Kebakaran Hutan Gelombang Panas

























