Ilustrasi kasus ebola di Kongo (Foto: AFP)
Jakarta, Jurnas.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) berkembang lebih cepat dibanding upaya penanganannya. Di sejumlah wilayah, jumlah kasus baru bahkan dilaporkan meningkat dua kali lipat hanya dalam sepekan terakhir.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan kondisi tersebut menuntut peningkatan respons secara besar-besaran agar penyebaran virus dapat segera dikendalikan.
"Wabah ini menyebar lebih cepat dibanding peningkatan kapasitas respons kami, dengan kasus baru meningkat dua kali lipat di beberapa titik dalam sepekan terakhir," ujar Tedros melalui akun X setelah melakukan pertemuan dengan pemerintah dan mitra kemanusiaan di Kinshasa, Rabu.
Menurut laporan terbaru Kementerian Kesehatan Kongo, sejak wabah diumumkan pada pertengahan Mei 2026, tercatat 3.874 kasus Ebola dengan 1.751 kematian. Tingkat kematian akibat penyakit tersebut mencapai 45,1 persen, menjadikannya wabah Ebola terbesar kedua di dunia berdasarkan jumlah kasus yang pernah tercatat.
Tedros menegaskan seluruh mitra kemanusiaan sepakat bahwa respons harus segera diperkuat di seluruh aspek, mulai dari deteksi kasus, perawatan pasien, hingga perlindungan tenaga kesehatan.
Ebola Mereda, WHO Konfirmasi Penemuan Virus Baru
Ia menilai keberhasilan pengendalian wabah sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat.
"Ebola tidak dapat dihentikan tanpa kepercayaan, kepemimpinan, dan kemitraan masyarakat," katanya.
Angka Kasus Ebola di RD Kongo Terus Meningkat
Menurut Tedros, respons juga harus tetap menjangkau masyarakat di wilayah yang terdampak konflik dan pengungsian. Selain itu, koordinasi di bawah kepemimpinan pemerintah perlu diperkuat, disertai perlindungan, pelatihan, dan dukungan bagi tenaga kesehatan yang berada di garis depan.
WHO juga menekankan pentingnya mempercepat layanan pengobatan, pengawasan epidemiologi, serta pelaksanaan pemakaman yang aman dan bermartabat untuk memutus rantai penularan.
Di sisi lain, Republik Demokratik Kongo bersama Uganda memperkuat pengawasan lintas batas dengan membangun laboratorium bergerak di kawasan perbatasan Kasenyi, Provinsi Ituri.
Wilayah yang berada di tepi Danau Albert tersebut dihuni lebih dari 94 ribu penduduk dan menjadi salah satu jalur perlintasan utama menuju Uganda, sehingga dinilai berisiko tinggi terhadap penyebaran penyakit menular.
WHO menyatakan laboratorium tersebut akan mempercepat konfirmasi kasus Ebola, memperkuat pengawasan lintas negara, sekaligus membantu memutus rantai penularan di kawasan perbatasan. (*)
Sumber: Anadolu
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Organisasi Kesehatan Dunia Wabah Ebola Republik Demokratik Kongo Epidemi Ebola
























