Bulan purnama Juli atau Buck Moon muncul di langit akhir Juli 2026 dan menjadi purnama terakhir sebelum rangkaian fenomena langit langka terjadi pada Agustus mendatang (Foto: Live Science)
Jakarta, Jurnas.com - Bulan purnama Juli atau Buck Moon muncul di langit akhir Juli 2026 dan menjadi purnama terakhir sebelum rangkaian fenomena langit langka terjadi pada Agustus mendatang.
Setelah purnama ini, dunia akan menyaksikan gerhana Matahari total pada 12 Agustus dan gerhana Bulan sebagian pada akhir bulan yang sama.
Fenomena ini menjadikan akhir Juli hingga Agustus sebagai salah satu periode paling menarik bagi para pengamat langit. Buck Moon bukan sekadar bulan purnama biasa, tetapi juga penanda dimulainya “musim gerhana” yang hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu dalam setahun.
DIkutip dari Live Science, Buck Moon mencapai fase purnama penuh pada 29 Juli pukul 10.37 EDT atau sekitar malam hari waktu Indonesia. Meski demikian, bulan akan tampak bulat dan terang sejak malam sebelumnya hingga sehari setelahnya.
Momen terbaik untuk mengamati Buck Moon adalah saat bulan baru muncul di ufuk timur setelah matahari terbenam. Pada saat itu, bulan sering terlihat berwarna jingga atau keemasan akibat efek hamburan cahaya di atmosfer Bumi, fenomena yang sama yang membuat langit tampak biru dan matahari terbenam berwarna merah.
Nama Buck Moon berasal dari tradisi masyarakat Amerika Utara yang mengamati rusa jantan mulai menumbuhkan tanduk baru pada musim panas. Bulan purnama ini juga dikenal dengan sebutan Thunder Moon atau Hay Moon. Sementara masyarakat adat Anishinaabeg menyebutnya Miin Giizis atau Berry Moon, merujuk pada musim panen buah beri.
Secara astronomi, Buck Moon termasuk salah satu purnama terendah di langit belahan Bumi utara. Hal ini terjadi karena purnama Juli muncul tidak lama setelah titik balik Matahari musim panas pada Juni, sehingga lintasan bulan menyerupai posisi Matahari saat musim dingin.
Namun daya tarik terbesar Buck Moon tahun ini terletak pada apa yang akan terjadi setelahnya.
Sekitar dua pekan usai purnama, Bulan akan memasuki fase baru dan memicu gerhana Matahari total pada 12 Agustus 2026. Jalur totalitas gerhana akan melintasi Greenland bagian timur, Islandia barat, dan Spanyol utara. Di lokasi tersebut, Matahari akan tertutup sepenuhnya selama beberapa menit sehingga korona Matahari dapat terlihat jelas.
Pada hari yang sama, langit juga akan berada dalam kondisi gelap tanpa cahaya bulan, menciptakan peluang terbaik dalam beberapa tahun terakhir untuk menyaksikan hujan meteor Perseid yang diperkirakan menghasilkan puluhan hingga sekitar 100 meteor per jam di lokasi yang gelap.
Rangkaian fenomena langit berlanjut pada 27-28 Agustus ketika Bulan Purnama Sturgeon mengalami gerhana Bulan sebagian. Lebih dari 96 persen permukaan Bulan diperkirakan memasuki bayangan Bumi dan dapat diamati dari Eropa, Afrika, Amerika Utara, hingga Amerika Selatan.
Bagi pecinta astronomi, Buck Moon bukan hanya pemandangan indah di langit malam. Purnama ini menjadi gerbang menuju salah satu musim pengamatan langit paling spektakuler pada 2026, saat gerhana Matahari, gerhana Bulan, dan hujan meteor besar hadir dalam rentang waktu yang hampir bersamaan. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Fenomena Astronomi Buck Moon Gerhana Matahari Total Agustus 2026




















