Presiden Bangladesh, Mohammed Shahabuddin (Foto: Reuters)
Dhaka, Jurnas.com - Presiden Bangladesh Mohammed Shahabuddin, mantan sekutu dari perdana menteri Sheikh Hasina, mengundurkan diri dengan alasan masalah kesehatan serius, menurut pengumuman kantor kepresidenan pada Jumat (24/7).
Shahabuddin memegang jabatan presiden yang sebagian besar bersifat seremonial sejak April 2023, sebuah periode yang mencakup bulan-bulan penuh gejolak setelah pelarian Hasina ke India menyusul pemberontakan yang dipimpin mahasiswa terhadap pemerintahannya pada 2024.
"Pemeriksaan medis baru-baru ini mendiagnosis saya dengan kondisi yang dikenal sebagai Neuropati Otonom. Akibat kondisi ini, saya kadang-kadang mengalami kehilangan kesadaran sesaat," kata Shahabuddin dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh sekretaris persnya, dikutip dari Arab News.
Pengunduran diri Shahabuddin ini akan membuat Hasina tidak lagi memiliki sekutu di jabatan tinggi lima bulan sebelum rencana kepulangannya.
Partai Liga Awami miliknya telah dilarang, dan banyak pemimpin serta aktivisnya telah dipenjara atau bersembunyi sejak pemberontakan mematikan yang dipimpin mahasiswa menggulingkan pemerintahannya pada 2024.
Ketua Jatiya Sangsad, atau parlemen nasional, akan menjalankan tugas-tugas presiden hingga presiden yang baru terpilih, demikian bunyi pernyataan tersebut.
Sebagai kepala negara, Shahabuddin merupakan panglima tertinggi angkatan bersenjata, namun kekuasaan eksekutif sepenuhnya berada di tangan perdana menteri dan kabinet di negara berpenduduk 173 juta jiwa yang mayoritas Muslim tersebut.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Mohammed Shahabuddin Presiden Bangladesh Mundur Gejolak Politik Bangladesh



























