Sabtu, 18/07/2026 10:12 WIB

Super El Nino Berpotensi Pecahkan Rekor Krisis Pangan-Kemanusiaan Mengintai





Fenomena Super El Nino 2026 diperkirakan semakin menguat dan kini disebut memiliki peluang sangat besar menjadi yang terkuat sejak pencatatan modern dimulai

El Nino 2026-2027 diprediksi akan menjadi yang terkuat dalam sejarah pengamatan modern (Foto: Live Science)

Jakarta, Jurnas.com - Fenomena Super El Nino 2026 diperkirakan semakin menguat dan kini disebut memiliki peluang sangat besar menjadi yang terkuat sejak pencatatan modern dimulai.

Jika prediksi tersebut benar terjadi, dunia bukan hanya akan menghadapi suhu global yang lebih panas, tetapi juga peningkatan risiko banjir, kekeringan, gagal panen, hingga krisis kemanusiaan di sejumlah wilayah.

Analisis terbaru dari ilmuwan iklim Berkeley Earth, Zeke Hausfather, menunjukkan model iklim global kini memberikan peluang sekitar 90 persen bahwa El Nino 2026–2027 akan menjadi yang terkuat dalam sejarah pengamatan modern.

Dikutip dari Live Science, dalam skenario tersebut, suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis diperkirakan dapat meningkat hingga sekitar 3,6 derajat Celsius di atas rata-rata, melampaui rekor Super El Nino 2015–2016.

El Nino merupakan fase hangat alami dari siklus iklim El Nino-Southern Oscillation (ENSO) yang terjadi setiap dua hingga tujuh tahun. Namun, kali ini fenomena tersebut berkembang di tengah kondisi bumi yang sudah lebih panas akibat perubahan iklim.

Kondisi tersebut dikhawatirkan membuat dampaknya jauh lebih besar dibandingkan El Nino sebelumnya.

Badan Meteorologi Dunia (WMO) sebelumnya juga memproyeksikan El Nino yang diumumkan pada 11 Juni akan berkembang menjadi kategori kuat hingga sangat kuat pada pertengahan hingga akhir 2026.

Sementara itu, Climate Prediction Center milik NOAA memperkirakan peluang El Nino mencapai kategori sangat kuat pada akhir tahun telah melampaui 80 persen, sehingga berpotensi masuk jajaran El Nino terbesar yang pernah tercatat.

Profesor proses iklim dari University of Reading, Emily Black, mengatakan kesamaan hasil dari berbagai model prakiraan membuat proyeksi tersebut perlu mendapat perhatian serius.

Menurutnya, meski prakiraan El Nino selalu mengandung ketidakpastian, tingkat kesepakatan antarmodel saat ini sangat tinggi dan didukung oleh pemanasan yang sudah berlangsung di Samudra Pasifik tropis.

Super El Nino diketahui mampu mengubah pola cuaca di berbagai belahan dunia. Di sebagian wilayah Asia dan Afrika Timur, fenomena ini berpotensi memicu kekeringan berkepanjangan maupun banjir besar yang mengancam jutaan penduduk.

Sementara di Amerika Serikat, El Nino biasanya membawa kondisi lebih hangat dan kering di wilayah timur laut, tetapi meningkatkan risiko banjir di kawasan Gulf Coast dan tenggara.

Secara global, El Nino juga meningkatkan panas di atmosfer sehingga memperbesar peluang terjadinya gelombang panas ekstrem, kebakaran hutan, gangguan musim hujan, hingga gelombang panas laut.

Emily Black menegaskan bahwa El Nino memang merupakan fenomena alami, tetapi kini berlangsung di tengah bumi yang jauh lebih hangat akibat aktivitas manusia. Kombinasi keduanya dapat memperparah berbagai cuaca ekstrem yang sebelumnya sudah dipicu oleh perubahan iklim.

Organisasi kemanusiaan International Rescue Committee (IRC) telah memperingatkan bahwa El Nino sangat kuat berpotensi memicu bencana kemanusiaan di sejumlah negara berkembang.

Banjir dan kekeringan diperkirakan mengganggu produksi pangan, merusak mata pencaharian masyarakat, serta meningkatkan risiko kerawanan pangan, terutama di kawasan Asia dan Afrika.

Sejarah menunjukkan dampak El Nino dapat berlangsung sangat serius. Peristiwa El Nino 2015–2016 menyebabkan kekeringan parah di Ethiopia dan Karibia, musim badai yang sangat aktif di Pasifik Tengah, serta ikut mendorong kenaikan suhu global hingga mencetak rekor.

Bahkan, sejumlah ilmuwan mengaitkan Super El Nino 1877–1878 dengan kekeringan ekstrem yang memperburuk kelaparan global dan menyebabkan puluhan juta korban jiwa. Meski faktor sosial dan kebijakan kolonial saat itu turut memperparah situasi, peristiwa tersebut menjadi pengingat besarnya dampak yang dapat ditimbulkan ketika cuaca ekstrem dan kerentanan sosial bertemu.

Meski peluangnya terus meningkat, para ilmuwan mengingatkan bahwa El Nino belum mencapai puncaknya sehingga hasil akhirnya masih dapat berubah.

Emily Black menilai kemungkinan El Nino 2026 menjadi yang terkuat memang semakin realistis, tetapi belum bisa dipastikan sepenuhnya karena kekuatan puncaknya baru akan terlihat menjelang akhir tahun.

Selain itu, status "terkuat sepanjang sejarah" juga bergantung pada metode pengukuran, indeks, serta data acuan yang digunakan masing-masing lembaga.

Para peneliti menilai perhatian utama seharusnya bukan sekadar apakah El Nino 2026 akan memecahkan rekor, melainkan seberapa besar dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

Prediksi yang tersedia sejak jauh hari memberi kesempatan bagi pemerintah untuk memperkuat mitigasi bencana, mengantisipasi gangguan produksi pangan, menyiapkan pasokan air, hingga memperkuat sistem perlindungan bagi kelompok masyarakat yang paling rentan.

Dengan peluang mencapai sekitar 90 persen untuk menjadi Super El Nino terkuat dalam sejarah modern, para ilmuwan menilai dunia memiliki waktu untuk bersiap sebelum dampak terburuk benar-benar terjadi. (*)

Sumber: Live Science

KEYWORD :

Super El Nino Dampak El Nino Krisis Pangan Krisis Kemanusiaan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :