Sabtu, 18/07/2026 00:10 WIB

Mengapa Hari Mendengarkan Sedunia Diperingati Setiap 18 Juli?





Setiap tanggal 18 Juli, masyarakat di berbagai belahan dunia memperingati Hari Mendengarkan Sedunia atau World Listening Day.

Ilustrasi - Hari Mendengarkan Sedunia setiap 18 Juli (Foto: Shutterstock)

Jakarta, Jurnas.com - Setiap tanggal 18 Juli, masyarakat di berbagai belahan dunia memperingati Hari Mendengarkan Sedunia atau World Listening Day.

Di tengah dunia yang kian bising dan dipenuhi distrasi digital, peringatan ini hadir sebagai refleksi penting untuk kembali peduli terhadap suara-suara di sekitar kita, baik suara alam, lingkungan, maupun sesama manusia.

Pemilihan tanggal 18 Juli sebagai Hari Mendengarkan Sedunia bukanlah tanpa alasan. Tanggal ini merupakan hari kelahiran Raymond Murray Schafer (lahir 18 Juli 1933).

Seorang komposer, penulis, dan aktivis lingkungan asal Kanada yang dikenal luas sebagai pendiri gerakan Ekologi Akustik (Acoustic Ecology).

Schafer mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari hubungan antara manusia, suara, dan lingkungan mereka.

Melalui proyek ambisius bernama World Soundscape Project pada tahun 1970-an, ia menyadarkan dunia bahwa suara-suara di lingkungan sekitar kita memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan mental, budaya, dan ekologi.

Untuk menghormati jasa dan dedikasinya tersebut, hari lahir Schafer diabadikan sebagai hari perayaan global ini.

Peringatan ini pertama kali digagas dan diselenggarakan pada tahun 2010 oleh World Listening Project (WLP), sebuah organisasi nirlaba global yang fokus pada pemahaman dunia dan aplikasinya melalui praktik mendengarkan secara aktif.

Setiap tahunnya, Hari Mendengarkan Sedunia mengusung tema-tema unik yang relevan dengan kondisi bumi dan sosial terkini, mendorong kita untuk lebih peka terhadap perubahan lingkungan melalui indra pendengaran.

Berdasarkan esensi yang disuarakan oleh para praktisi lingkungan dan psikolog, ada dua pilar utama mengapa gerakan mendengarkan ini terus dikampanyekan setiap tahunnya:

1. Kesadaran Lingkungan (Ekologis)

Mendengarkan alam membantu kita mendeteksi perubahan iklim dan kerusakan ekosistem. Hilangnya suara kicau burung di hutan atau meningkatnya kebisingan mesin di area laut adalah sinyal bahwa keseimbangan alam sedang terganggu.

2. Empati Sosial (Kemanusiaan)

Dalam konteks sosial, mendengarkan secara aktif (active listening) adalah fondasi dari empati. Sering kali, konflik interpersonal maupun global terjadi karena setiap pihak sibuk berbicara dan menyuarakan kepentingannya tanpa mau meluangkan waktu untuk benar-benar mendengarkan perspektif orang lain.

KEYWORD :

Hari Mendengarkan Sedunia 18 Juli World Listening Day Peringatan Dunia




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :