Ilustrasi bulan Safar (Foto: Tebuireng Online)
Jakarta, Jurnas.com - Umat Islam saat ini tengah berada di bulan Safar 1448 Hijriah, bulan kedua dalam kalender Hijriyah. Memasuki bulan Safar, biasanya berbagai anggapan tentang bulan ini kembali ramai diperbincangkan.
Salah satu yang paling sering muncul adalah keyakinan bahwa Safar merupakan bulan sial, sehingga dianggap tidak baik untuk menikah, memulai usaha, hingga bepergian jauh.
Padahal, dikutip dari laman NU, MUI, BAZNAS, serta berbagai sumber lainnya, anggapan tersebut tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Kepercayaan itu justru berasal dari tradisi masyarakat Arab sebelum datangnya Islam.
Secara bahasa, kata Safar berasal dari bahasa Arab yang berarti kosong atau sepi. Penamaan ini menggambarkan kondisi perkampungan Arab pada masa lampau yang ditinggalkan para laki-laki karena bepergian, berdagang, atau berperang.
Seiring waktu, makna "kosong" tersebut berkembang menjadi berbagai kepercayaan yang mengaitkan bulan Safar dengan kesialan dan musibah.
Masyarakat Arab Jahiliyah bahkan meyakini Safar sebagai bulan yang membawa berbagai bencana. Mereka menghindari berbagai aktivitas penting karena takut tertimpa nasib buruk.
Dalam literatur klasik disebutkan bahwa sebagian masyarakat Arab Jahiliyah juga mempercayai adanya penyakit misterius bernama Safar yang menyerang bagian perut manusia.
Selain itu, mereka meyakini angin panas yang berembus pada bulan Safar dapat mendatangkan penyakit dan malapetaka.
Dari sinilah muncul berbagai mitos yang terus diwariskan dari generasi ke generasi, termasuk anggapan bahwa bulan Safar tidak baik untuk menggelar pernikahan, membuka usaha baru, maupun melakukan perjalanan jauh.
Islam datang untuk meluruskan berbagai keyakinan yang tidak berdasar tersebut.
Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada penularan penyakit (tanpa izin Allah), tidak ada thiyarah (anggapan sial karena pertanda tertentu), dan tidak ada (kesialan dalam bulan) Safar." (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi dasar bahwa bulan Safar tidak memiliki hubungan dengan kesialan maupun datangnya musibah.
Islam mengajarkan bahwa seluruh bulan dalam kalender Hijriah memiliki kedudukan yang sama sebagai ciptaan Allah. Tidak ada satu bulan pun yang membawa keberuntungan atau keburukan dengan sendirinya.
Karena tidak ada dalil yang melarang, umat Islam diperbolehkan melangsungkan akad nikah, memulai bisnis, bepergian, maupun melakukan aktivitas penting lainnya selama bulan Safar.
Ketakutan terhadap bulan Safar diyakini hanyalah warisan budaya masa lalu, bukan bagian dari ajaran Islam. Yang menentukan baik atau buruknya suatu peristiwa bukanlah waktu, melainkan kehendak Allah SWT serta usaha dan doa yang dilakukan manusia.
Meski mitos bulan Safar masih bertahan di sebagian masyarakat hingga sekarang, Islam mengajarkan agar umat tidak terjebak dalam takhayul yang bertentangan dengan prinsip tauhid.
Bulan Safar seharusnya dipandang sama seperti bulan-bulan Hijriah lainnya, yakni sebagai kesempatan untuk memperbanyak ibadah, berdoa, memperbaiki amal, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. (*)
Wallahu`alam
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Bulan Safar Mitos bulan Safar Info Keislaman Safar 2026

























