Jum'at, 17/07/2026 13:25 WIB

Bahaya Asap Kebakaran Hutan, Bisa Rusak Paru-paru, Jantung hingga Otak





Di tengah meningkatnya frekuensi kebakaran hutan akibat perubahan iklim, para ilmuwan mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap bahaya asap

Ilustrasi asap kebakaran hutan (File: Abdelaziz Boumzar/Reuters)

Jakarta, Jurnas.com - Asap kebakaran hutan bukan sekadar mengganggu pernapasan atau membuat mata perih. Para ahli mengingatkan, paparan asap kebakaran hutan juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, mengganggu fungsi otak, hingga memicu masalah kesehatan mental jika terpapar dalam waktu lama.

Di tengah meningkatnya frekuensi kebakaran hutan akibat perubahan iklim, para ilmuwan mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap bahaya asap yang sering kali tidak terlihat, tetapi memiliki dampak serius bagi kesehatan.

Dikutip dari Live Science, menurut para ahli, bahaya terbesar dari asap kebakaran hutan berasal dari partikel halus PM2.5, yaitu partikel berukuran kurang dari 2,5 mikrometer atau sekitar 28 kali lebih kecil daripada diameter rambut manusia.

Profesor epidemiologi dari University of Michigan, Sara Adar, menjelaskan bahwa asap kebakaran mengandung berbagai senyawa kimia hasil pembakaran vegetasi, bangunan, hingga material lainnya. Di antara semua zat tersebut, PM2.5 merupakan yang paling berbahaya karena mampu masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.

Pada paparan jangka pendek, partikel ini dapat menyebabkan mata terasa perih, hidung berair, tenggorokan gatal, batuk, hingga iritasi pada mata, hidung, dan mulut.

Orang yang memiliki penyakit kulit seperti eksim juga berisiko mengalami kekambuhan setelah terpapar asap kebakaran. Karena ukurannya sangat kecil, PM2.5 mampu menembus paru-paru hingga masuk ke aliran darah.

Dr. Stephanie Lovinsky-Desir, pakar kesehatan lingkungan dari Columbia University, mengatakan paparan asap dapat memicu peradangan yang memperburuk penyakit pernapasan, seperti asma maupun penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Gejala dapat muncul segera setelah terpapar atau dalam satu hingga dua hari berikutnya.

Pada penderita gangguan pernapasan, kondisi tersebut dapat menyebabkan sesak napas yang cukup berat hingga membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Dampak asap kebakaran tidak berhenti di paru-paru. Penelitian menunjukkan partikel PM2.5 yang masuk ke aliran darah juga dapat memicu peradangan pada pembuluh darah dan jantung.

Akibatnya, risiko serangan jantung maupun penyakit jantung koroner meningkat, terutama dalam 24 jam setelah seseorang menghirup asap pekat.

Kelompok lanjut usia, penderita penyakit jantung, serta mereka yang memiliki penyakit kronis menjadi kelompok yang paling rentan mengalami komplikasi.

Paparan asap kebakaran hutan dalam jangka panjang juga dikaitkan dengan gangguan fungsi otak.

Beberapa penelitian menemukan bahwa PM2.5 dapat memicu peradangan pada sistem saraf pusat sehingga mengganggu kemampuan mengingat, belajar, berkonsentrasi, hingga komunikasi antar sel saraf.

Bahkan, penelitian lain menunjukkan paparan asap kebakaran selama bertahun-tahun berkaitan dengan meningkatnya risiko demensia.

Tak hanya itu, penelitian terhadap korban kebakaran hutan di Oregon, Amerika Serikat, menemukan bahwa paparan asap pekat selama lebih dari dua pekan meningkatkan keluhan kecemasan dan depresi.

Temuan tersebut memperkuat bukti bahwa polusi partikel halus juga berpengaruh terhadap kesehatan mental.

Para ahli menegaskan bahwa langkah paling efektif adalah mengurangi paparan asap sebanyak mungkin. Jika berada di wilayah yang masuk zona evakuasi, masyarakat disarankan segera meninggalkan lokasi.

Sementara bagi yang masih berada di rumah, beberapa langkah berikut dapat membantu mengurangi risiko paparan. Pertama, tetap berada di dalam ruangan dan tutup rapat pintu serta jendela. Kedua, gunakan air purifier dengan penyaring partikel halus (HEPA) bila tersedia.

Kemudian, nyalakan pendingin ruangan untuk membantu menjaga kualitas udara di dalam rumah. Ketiga, siapkan obat-obatan bagi penderita asma, PPOK, atau penyakit paru lainnya agar tidak kehabisan saat kondisi darurat. Keempat, hindari berolahraga di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

Selain itu, bila harus keluar rumah, gunakan masker N95 yang terpasang rapat di wajah agar mampu menyaring partikel PM2.5 secara optimal.

Para ilmuwan mengingatkan bahwa perubahan iklim membuat kebakaran hutan semakin sering terjadi, berlangsung lebih lama, dan menghasilkan asap dalam jumlah lebih besar.

Karena itu, bahaya asap kebakaran tidak lagi hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.

Dengan meningkatnya kejadian kebakaran hutan di berbagai belahan dunia, masyarakat diimbau untuk selalu memantau kualitas udara dan segera mengambil langkah perlindungan ketika tingkat polusi mulai meningkat. (*)

Sumber: Live Science

KEYWORD :

Bahaya Asap Paparan Asap Kebakaran Hutan Risiko Kesehatan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :