Senin, 22/06/2026 18:43 WIB

Menko AHY: Giant Sea Wall Investasi Jangka Panjang Lindungi Pantura





Kita menghadapi dua tantangan sekaligus, yaitu kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim dan penurunan muka tanah yang terjadi di sejumlah wilayah Pantura.

Mentrans Iftitah Sulaiman mendampingi Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono dalam rapat bersama Menteri Bappenas Rachmat Pambudy, di Jakarta (Foto: Istimewa)

Jakarta, Jurnas.com - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan pembangunan Giant Sea Wall atau Tanggul Laut Pantai Utara Jawa merupakan langkah strategis untuk melindungi kawasan pesisir utara Pulau Jawa dari ancaman banjir rob, kenaikan muka air laut, dan penurunan muka tanah yang semakin mengkhawatirkan.

Menurut AHY, proyek Giant Sea Wall tidak sekadar pembangunan tanggul laut, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga keselamatan jutaan penduduk serta melindungi kawasan industri, pusat logistik, dan berbagai aktivitas ekonomi nasional yang berada di wilayah Pantai Utara Jawa (Pantura).

“Kita menghadapi dua tantangan sekaligus, yaitu kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim dan penurunan muka tanah yang terjadi di sejumlah wilayah Pantura. Karena itu, langkah mitigasi tidak bisa ditunda,” ujar AHY usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Senin (22/6).

AHY menjelaskan pemerintah akan memprioritaskan penanganan kawasan Teluk Jakarta dan koridor Demak-Semarang-Kendal yang selama ini menjadi wilayah paling rentan terhadap banjir rob serta fenomena penurunan muka tanah.

Menurutnya, pengembangan Giant Sea Wall dirancang sebagai proyek jangka panjang yang membentang dari Banten hingga Jawa Timur dengan panjang sekitar 575 kilometer. Infrastruktur tersebut diharapkan menjadi bagian penting dari strategi adaptasi perubahan iklim sekaligus memperkuat ketahanan kawasan pesisir nasional.

Meski demikian, pemerintah tidak hanya mengandalkan pembangunan tanggul laut sebagai solusi utama. AHY menegaskan pendekatan yang digunakan juga mencakup solusi berbasis alam melalui rehabilitasi mangrove, pemulihan ekosistem pesisir, dan berbagai program konservasi lingkungan lainnya.

“Kami ingin menghadirkan solusi yang tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga berkelanjutan secara lingkungan,” katanya.

Selain berfungsi sebagai pelindung kawasan pesisir, proyek Giant Sea Wall juga diproyeksikan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi baru di wilayah Pantura.

Kehadiran infrastruktur tersebut diyakini mampu meningkatkan konektivitas antarwilayah, mendorong pengembangan kawasan strategis, serta menarik investasi yang berdampak pada penciptaan lapangan kerja.

AHY mengungkapkan pemerintah saat ini tengah menyiapkan berbagai skema pembiayaan dan pengembangan kawasan, termasuk melalui pendekatan land value capture, guna memastikan manfaat ekonomi proyek dapat dirasakan secara luas dan berkelanjutan.

Ia menekankan bahwa pembangunan Giant Sea Wall harus dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk melindungi masyarakat sekaligus menjaga keberlangsungan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di pesisir utara Pulau Jawa.

“Tujuan akhirnya bukan hanya melindungi Pantura, melainkan juga menjadikan kawasan ini lebih produktif, lebih kompetitif, dan mampu menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional di masa depan,” tutup AHY.

 

 

 

KEYWORD :

Banggar DPR Menko AHY Giant Sea Wall Laut Pantura Pantai Utara Jawa banjir rob




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :