Rabu, 27/05/2026 00:02 WIB

Mengenal 5 Tradisi Unik Merayakan Idul Adha di Indonesia





Berikut ini lima tradisi unik menyambut Idul Adha yang hanya bisa dijumpai di Indonesia.

Ilustrasi tradisi Idul Adha di Indonesia (Foto: AntaraFoto/Makna Zaezar)

Jakarta, Jurnas.com - Hari Raya Idul Adha bukan sekadar momen sakral untuk melaksanakan salat Id dan menyembelih hewan kurban bagi umat Muslim di Indonesia.

Di balik esensi ibadah utamanya, Indonesia yang kaya akan keragaman suku dan budaya memiliki berbagai cara unik dalam merayakan hari raya kurban ini.

Akulturasi antara nilai-nilai Islam dan kearifan lokal melahirkan tradisi-tradisi turun-temurun yang masih terjaga kelestariannya hingga kini.

Mulai dari bentuk penghormatan kepada hewan kurban hingga simbol kebersamaan keluarga, perayaan ini selalu tampil semarak.

Dihimpun dari berbagai sumber, berikut ini lima tradisi unik menyambut Idul Adha yang hanya bisa dijumpai di Indonesia:

1. Apitan – Semarang

Tradisi Apitan berasal dari adanya bulan yang diapit bulan Syawal dan bulan Zulhijjah atau dapat diartikan dua bulan yang `mengapit` pelaksanaan Iduladha. Kegiatan ini biasanya diawali dengan pertunjukan kesenian kuda lumping untuk menambah semarak suasana.

Apitan merupakan wujud syukur atas hasil bumi yang didapat masyarakat. Salah satu momen menarik dari tradisi ini adalah arak-arakan hasil panen yang kemudian diperebutkan oleh warga.

Perebutan ini dipercaya membawa berkah dan keberuntungan bagi siapa saja yang berhasil mendapatkannya. Selain nilai spiritual, tradisi ini menjadi hiburan rakyat yang menghidupkan kearifan lokal.

2. Gamelan Sekaten – Surakarta

Gamelan Sekaten memiliki akar sejarah kuat dari masa Kerajaan Mataram, khususnya di masa pemerintahan Sultan Agung pada tahun 1644 M.

Dua perangkat gamelan utama, yaitu Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari, ditabuh dalam momen-momen besar Islam seperti Idul Fitri, Maulid Nabi, dan tentu saja Iduladha.

Tradisi ini dilaksanakan usai salat Iduladha, dan menjadi daya tarik tersendiri karena pengunjung tidak hanya menikmati alunan musik gamelan, tetapi juga turut mengunyah kinang, tradisi yang diyakini membawa umur panjang.

3. Grebeg Gunungan – Yogyakarta

Keraton Yogyakarta rutin menyelenggarakan Grebeg Besar sebagai bagian dari perayaan Iduladha. Tradisi ini berupa kirab tujuh gunungan hasil bumi yang dibawa dari keraton ke beberapa tempat seperti Masjid Gede Kauman, Pendopo Pengulon, dan Puro Pakualaman.

Gunungan-gunungan tersebut akan diperebutkan oleh masyarakat yang hadir, karena dipercaya membawa keberkahan dan rezeki. Grebeg Gunungan tak hanya menjadi atraksi visual yang menarik, tetapi juga menunjukkan sinergi antara agama, budaya, dan daya tarik wisata.

4. Manten Sapi – Pasuruan

Pasuruan, Jawa Timur, memiliki tradisi unik menyambut Iduladha dengan prosesi Manten Sapi. Sapi-sapi kurban akan dimandikan, diberi kalung bunga tujuh rupa, dibalut kain kafan, hingga dihias dengan sorban dan sajadah.

Setelah dirias, sapi-sapi ini diarak menuju masjid dengan iring-iringan warga. Masyarakat melaksanakan tradisi ini sebagai bentuk penghormatan terhadap hewan kurban. Prosesi ini menjadi tontonan yang menarik, penuh nilai simbolis, sekaligus menonjolkan kearifan lokal masyarakat Pasuruan.

5. Mepe Kasur – Banyuwangi

Masyarakat suku Osing di Desa Kemiren, Banyuwangi, memiliki tradisi Mepe Kasur atau menjemur kasur menjelang Iduladha. Tradisi ini berlangsung dari pagi hingga siang, dengan semua kasur berwarna merah dan hitam yang dijemur serempak di depan rumah.

Warna merah melambangkan keberanian, sementara hitam melambangkan keabadian atau kelanggengan. Tradisi ini dipercaya sebagai upaya menolak bala serta menjaga keharmonisan rumah tangga.

Keunikan warna dan kekompakan warga menjadikan Mepe Kasur sebagai peristiwa budaya yang sangat fotogenik dan menarik perhatian wisatawan.

KEYWORD :

Tradisi Idul Adha Idul Adha Hewan Kurban Lebaran Haji




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :