Ilustrasi ciri-ciri anak anda kecanduan media sosial (Foto: Pexels/Ron Lach)
Jakarta, Jurnas.com - LSM Ruang Damai mengajak masyarakat digital untuk memerangi maraknya hoaks dan kekerasan di dunia maya, yang rentan mengakibatkan kesehatan mental.
Hal ini disampaikan dalam webinar Bincang Damai bertajuk `Think Before You Click: Bijak Menggunakan Sosial Media` pada Senin (25/5) secara daring.
Direktur Eksekutif Ruang Damai, Zainal Abidin menekankan bahwa masyarakat saat ini hidup di dua dunia yaitu dunia nyata dan dunia digital. Karena itu, satu klik jempol memiliki kekuatan yang berdampak besar.
"Jika digunakan untuk menyebarkan kebaikan, ia bisa menjadi ladang inspirasi, edukasi, dan perdamaian. Sebaliknya, jika digunakan tanpa ruang berpikir yang jernih, satu klik itu bisa menyebarkan hoaks, memicu perpecahan, bahkan melukai hati sesama," ujar Zainal.
Karena itu, Zainal mengajak para peserta untuk senantiasa mengambil jeda sebelum membagikan informasi demi menumbuhkan kesadaran kolektif. Dia menekankan pentingnya mengembangkan kebiasaan kritis dalam memverifikasi kebenaran informasi guna memutus rantai hoaks.
Selain itu, dia mengingatkan bahwa interaksi di dunia maya sejatinya melibatkan manusia nyata, sehingga menjaga sopan santun dan etika tetap menjadi hal yang mutlak.
Menurut dia, penggunaan media sosial yang sehat tidak akan pernah terjadi secara kebetulan, melainkan harus dibangun secara sadar dan bersama-sama.
"Teknologi memberikan kita kebebasan untuk berekspresi, namun kebebasan tersebut harus diiringi dengan tanggung jawab. Melalui inisiatif ini, kami ingin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadi netizen cerdas yang tidak hanya mengonsumsi konten, tetapi juga memberikan dampak positif bagi ekosistem digital," kata Zainal.
Dia berharap melalui momentum ini, para peserta bisa mendapatkan perspektif baru untuk bertransformasi menjadi agen perdamaian digital (digital peacebuilders).
Bincang Damai juga menghadirkan dua narasumber ahli. Pemateri pertama, kriminolog Irnasya Shafira Hadi membedah fenomena kejahatan digital yang kian marak, seperti cyberbullying, grooming, hingga pelecehan seksual berbasis online.
"Setiap orang memiliki potensi menjadi korban maupun pelaku kekerasan di ruang digital apabila tidak memiliki kesadaran dalam bermedia sosial. Cyberbullying bukan sekadar candaan yang bisa dianggap sepele," kata Irnasya.
Sementara itu, Yogi Aris Budiman selaku Koordinator Yayasan Aliansi Remaja, menyoroti dampak media sosial dari kacamata psikologis anak muda. Menurut Yogi, media sosial bisa digunakan untuk memperluas relasi, namun di sisi lain memicu tekanan sosial akibat kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain demi mencari validasi eksternal.
“Ketika koneksi berubah menjadi tekanan, seseorang akan lebih mudah mengalami gangguan emosional. Karena itu, penting bagi setiap individu memiliki self-awareness (kesadaran diri) saat menggunakan media sosial,” ujar Yogi.
Dia menambahkan, kesadaran diri ini dapat dibangun dengan memahami tujuan saat online, mengelola emosi, menjaga privasi, serta membatasi aktivitas digital yang berlebihan.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Hoaks Medsos Media Sosial Kekerasan Digital Ruang Damai
























