Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PKS, Aboe Bakar Alhabsyi. (Foto: Ist)
Jakarta, Jurnas.com - Anggota MPR RI dari Fraksi PKS, Aboe Bakar Alhabsyi, menegaskan pentingnya momentum Hari Bangkit (HARBA) Pelajar Islam Indonesia yang diperingati setiap 4 Mei sebagai ajang refleksi ideologis bagi kader pelajar Islam di tengah derasnya arus disrupsi.
Menurut Aboe Bakar, HARBA tidak boleh dimaknai sekadar seremoni tahunan. Ia menyebut momentum ini sebagai titik evaluasi untuk melihat apakah ideologi yang diwariskan para pendiri organisasi masih hidup dan membumi dalam diri kader saat ini.
“Disrupsi bukan hanya soal digitalisasi, tetapi juga pergeseran nilai dan cara pandang. Dalam situasi seperti ini, ideologi tidak boleh hanya menjadi hafalan dalam forum kaderisasi, melainkan harus menjadi kompas yang menuntun arah gerak,” kata Aboe Bakar dalam keterangannya, Senin (4/5).
Politikus PKS ini mengingatkan, sejak berdiri pada 1947, Pelajar Islam Indonesia hadir bukan hanya sebagai organisasi pelajar, tetapi sebagai gerakan ideologis yang membawa misi membentuk pelajar Muslim berkepribadian Islam, berilmu, serta berperan aktif bagi umat dan bangsa.
Aboe Bakar menilai ideologi PII merupakan sintesis antara keislaman, keindonesiaan, dan kepelajaran yang harus terus dijaga lintas generasi. Namun, ia mengakui tantangan yang dihadapi pelajar saat ini jauh berbeda dibanding masa lalu.
“Jika dahulu menghadapi kolonialisme fisik, kini generasi muda dihadapkan pada ‘kolonialisme gaya hidup’, pemikiran instan, serta krisis makna akibat banjir informasi tanpa filter,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut berisiko menjadikan pelajar hanya sebagai penikmat zaman, bukan penggerak perubahan.
Dalam konteks itu, ia menekankan pentingnya transformasi kaderisasi tanpa kehilangan substansi. Aboe Bakar merinci tiga hal utama dalam mewariskan ideologi PII di era disrupsi.
Pertama, internalisasi nilai, yakni ideologi harus tercermin dalam perilaku kader, bukan sekadar tertulis dalam dokumen. Kedua, adaptasi metode, dengan memanfaatkan ruang digital sebagai ladang dakwah baru.
Ketiga, penguatan visi peradaban, dengan mendorong kader berpikir jauh ke depan dan mampu merumuskan arah peradaban.
“HARBA adalah panggilan untuk bangkit dalam kesadaran, pemikiran, dan aksi. Ideologi yang tidak diwariskan akan pudar, dan organisasi tanpa ideologi akan kehilangan arah,” tegasnya.
Ia pun mengajak seluruh kader Pelajar Islam Indonesia menjadikan peringatan Hari Bangkit sebagai momentum meneguhkan kembali semangat perjuangan serta menjaga relevansi organisasi di tengah perubahan zaman.
“Pertanyaannya sederhana, apakah kita hanya menjadi pewaris nama atau benar-benar menjadi penerus perjuangan. Jika ideologi itu hidup, maka PII akan tetap relevan. Jika tidak, disrupsi akan menggilas tanpa ampun,” pungkasnya.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Warta DPR Aboe Bakar Alhabsyi HARBA PII Pelajar Islam Indonesia Politikus PKS
























