Jum'at, 24/04/2026 18:43 WIB

Wacana Impor Karung Beras, Pelaku Industri Peringatkan Pemerintah





Pelaku industri plastik menanggapi wacana Bulog melakukan impor karung beras dari Malaysia, di tengah rumor kelangkaan bahan baku plastik akibat gejolak geopoli

Pertemuan Wamenperin Faisol Riza, PT AKPI, dan ABOFI (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Pelaku industri plastik menanggapi wacana Bulog melakukan impor karung beras dari Malaysia, di tengah rumor kelangkaan bahan baku plastik akibat gejolak geopolitik di Timur Tengah.

Ketua Asosiasi Biaxially Oriented Films Indonesia (ABOFI), Santoso Samudra Tan mengatakan bahwa produsen plastik dalam negeri sejauh ini masih mampu memenuhi kebutuhan domestik. Dengan demikian, impor plastik produk jadi tidak dibutuhkan.

Santoso tak menampik sempat ada kendala pasokan bijih plastik pasca Iran memblokade Selat Hormuz. Apalagi, 60-70 persen kebutuhan bahan baku plastik masih bergantung pada impor, di mana sebagian besar materialnya berasal dari Timur Tengah.

"Kita biasa impor bijih plastik baik karena kapasitas ketersediaan dan harga. Setelah Middle East (Timur Tengah) diserang, otomatis kita harus mengalihkan ke sourcing yang lain," kata Santoso di sela-sela kunjungan Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza ke PT Argha Karya Prima Industry Tbk (AKPI) di Citeureup, Bogor, pada Jumat (24/4).

"Kami kemudian pindah ke Vietnam, Thailand, ada Malaysia, dan China. Nah, China ini paling besar sekarang mendominasi, karena mereka akses terhadap oil-nya tidak terdampak. Kan minyak dari Iran semua tetap bisa kirim ke China. Kemudian mungkin dari Rusia juga akan bisa masuk ke China," dia menambahkan.

Sebab tidak ada kendala dari segi ketersediaan bahan baku, lanjut Santoso, masalah justru muncul dari sisi biaya yang mengalami kenaikan 60-70 persen akibat meroketnya harga minyak dan gas secara global. Namun terkait produksi dan pasokan plastik nasional, Santoso memastikan sejauh ini masih aman.

Karena itu, Santoso meminta narasi kelangkaan plastik yang ramai di jagat maya segera disudahi. Dia khawatir apabila industri dalam negeri dicitrakan tidak mampu memenuhi pasokan nasional, mendorong pemerintah membuka kebijakan impor.

"Kalau impornya yang masuk itu bijih plastik, masih oke. Tapi kalau yang masuk sampai dengan produk jadi, kemasan jadi, padahal di industri kita yang dihilir, itu kapasitas masih tersedia, masih mampu," ujar dia.

"Jadi seperti contoh pemberitaan bahwa Bulog kemungkinan menjajaki pembelian kantong beras dari Malaysia. Nah ini teman-teman dihilir khawatir. Ini kita itu masih mampu lo. Kapasitas masih tersedia, akses bahan baku kami masih bisa, meskipun lebih mahal," dia menambahkan.

Menanggapi hal itu, Wamenperin Faisol Riza lega karena industri plastik dan turunannya tidak perlu khawatir dengan pasokan, di saat permintaan dari industri makanan dan minuman terus meningkat.

"Tugas pemerintah berikutnya adalah memastikan di hilir para pelaku usaha yang membutuhkan bahan baku plastik, dapat mengakses dan dapat dilayani oleh perusahaan-perusahaan ini tanpa ada masalah. Termasuk supaya harga tetap bersaing," kata Wamen Riza.

Selanjutnya, Wamen Riza juga mengimbau agar pelaku industri dalam negeri tidak serta-merta menemuh jalan impor untuk memenuhi kebutuhan plastik. Sebab, produksi nasional masih sangat memadai.

"Jadi pemerintah mengimbau supaya perusahaan-perusahaan tetap mengedepankan produksi dalam negeri karena kemampuan produksi dalam negeri masih sangat besar. Kita lihat kalau memang nanti ada kebutuhan yang lebih besar lagi barangkali jalur impor bisa kita pilih," ujar Wamenperin.

KEYWORD :

Impor Karung Beras Industri Plastik PT AKPI Santoso Samudra Tan Ketua ABOFI




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :