Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengunjungi PT AKPI di Citeureup, Bogor (Foto: Ist)
Bogor, Jurnas.com - Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza meminta publik menghentikan spekulasi terkait kelangkaan bahan baku plastik di dalam negeri. Hal tersebut disampaikan saat berkunjung ke PT Argha Karya Prima Industry Tbk (AKPI) di Citeureup, Bogor, Jawa Barat pada Jumat (24/5), untuk melihat langsung kondisi produksi dan pasokan bahan baku industri.
Wamen Riza menyebutkan, hasil peninjauan di lapangan menunjukkan pasokan bahan baku plastik di dalam negeri masih dalam kondisi aman dan mampu memenuhi kebutuhan industri. Menurut dia, kondisi ini menjadi kabar baik bagi industri nasional, terutama di tengah permintaan yang terus meningkat.
“Bahan baku plastik tersedia sangat memadai di industri dalam negeri. Karena itu, kita tidak perlu khawatir. Perusahaan-perusahaan yang membutuhkan plastik dapat mencarinya dari produsen dalam negeri,” kata Wamen Riza.
Lebih lanjut, Wamen Riza menekankan pentingnya memastikan distribusi bahan baku berjalan lancar hingga ke sektor hilir, termasuk bagi pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) dan UMKM, serta menjaga stabilitas harga di tengah dinamika global.
“Tugas pemerintah adalah memastikan para pelaku usaha dapat mengakses bahan baku dengan mudah dan dilayani oleh produsen dalam negeri tanpa kendala, termasuk menjaga agar harga tetap bersaing. Jangan sampai ada pihak yang memanfaatkan situasi untuk menaikkan harga secara tidak wajar,” tegasnya.
Terkait isu kelangkaan plastik ini, Director PT AKPI, Jimmy Tjahjanto, menyampaikan bahwa gangguan pasokan memang sempat terjadi pada awal konflik, terutama dari pemasok di Timur Tengah. Namun, kondisi tersebut dapat segera diatasi melalui pengalihan sumber bahan baku ke negara lain.
“Kita punya supplier dari Saudi setop. Tapi tidak lama, karena kita langsung beralih cepat. Kita juga punya supply dari ASEAN, China, Rusia. Kita bisa dengan cepat mengalihkan ke vendor-vendor tersebut. Karena itu selama perang Iran kami normal,” ujar Jimmy.
Dia menambahkan, tekanan utama yang dihadapi industri saat ini justru lebih kepada kenaikan harga bahan baku seiring lonjakan harga minyak dunia.
“Dari segi harga tidak bisa dikendalikan. Sekarang 1.600-an dolar, hampir dua kali lipat. Kami masih pasok untuk customer domestik,” dia menambahkan.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Biaxially Oriented Films Indonesia (ABOFI), Santoso Samudra Tan, menilai persepsi kelangkaan bahan baku lebih dipengaruhi oleh gangguan awal pasokan dan respons pasar yang berlebihan.
“Perlu digarisbawahi bahwa yang terdampak secara langsung adalah biji plastik, nafta, dan bahan baku utama bagi industri plastik. Namun, dari sisi ketersediaan, bahan baku masih relatif aman dan produksi tetap berjalan lancar,” ujar Santoso.
Dia juga mengingatkan agar persepsi tersebut tidak berujung pada kebijakan yang justru merugikan industri dalam negeri.
“Jika impor hanya berupa bahan baku seperti biji plastik masih dapat diterima. Namun, jika impor sudah mencakup produk jadi, maka ini berpotensi merugikan industri hilir dalam negeri yang sebenarnya masih memiliki kapasitas produksi yang memadai,” dia menegaskan.
Dalam kunjungan ini, Wamen Riza sekaligus mengingatkan agar tidak ada pihak yang memanfaatkan situasi global untuk menetapkan harga yang tidak wajar. Dia juga mengimbau pelaku industri agar mulai mengurangi ketergantungan impor dalam memenuhi kebutuhan bahan baku.
“Pemerintah mengimbau supaya perusahaan-perusahaan tetap mengedepankan produksi dalam negeri karena kemampuan produksi dalam negeri masih sangat besar.Kita lihat kalau memang nanti ada kebutuhan yang lebih besar lagi, barangkali jalur impor bisa kita pilih,” tutup Wamen Riza.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Wamenperin Faisol Riza Industri Plastik Bahan Baku Plastik Konflik Timur Tengah


























