Selasa, 18/01/2022 20:43 WIB

Harga Minyak Goreng Meroket, DPR Minta Mendag Gerak Cepat Lakukan Operasi Pasar

Saya kira memang perlu cepat intervensi pasar. Kalau bisa minggu ini segera lakukan, jangan ditunda-tunda.

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI dari Fraksi NasDem, Martin Manurung. (Foto: Dok. Parlementaria)

Jakarta, Jurnas.com - Kementerian Perdagangan harus segera menggelar operasi pasar demi meredam gejolak harga minyak goreng (migor) di dalam negeri. Terlebih, belakangan banyak keluhan yang muncul dari masyarakat kecil terkait meroketnya harga minyak goreng.

Hal itu sebagaimana diutarakan Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Martin Manurung di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (1/12).

"Saya kira memang perlu cepat intervensi pasar. Kalau bisa minggu ini segera lakukan, jangan ditunda-tunda," katanya.

Politisi NasDem ini juga meminta Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi untuk segera mencari solusi lain agar harga minyak goreng dapat stabil jelang Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 (Nataru).

“Setidaknya, akan berdampak juga pada tekanan inflasi, meski tidak sebesar komoditi beras," ujarnya.

Martin mengakui, kenaikan harga CPO dunia ikut mengerek harga minyak goreng dalam negeri dan produk turunannya. "Selama ini harga CPO dunia anjlok, namun baru-baru ini melonjak. Tentu saja, kenaikan harga CPO ini ikut dinikmati pula oleh petani-petani sawit," ungkapnya

Legislator dari Dapil Sumut II mengakui sejumlah petani sawit yang hanya memiliki luas lahan sekitar 3 hektar hingga 5 hektar bersuka cita dengan naiknya harga CPO.

"Petani sawit daerah saya, ikut senang. Namun saya juga tidak menampik bahwa perusahaan besar juga ikut pula menikmati," imbuhnya.

Dari surevi lapangan di sejumlah retail didapati, harga minyak goreng merk tertentu dalam kantong 2 liter yang biasanya Rp29.000 menjadi Rp51.000, begitupun dengan minyak goreng biasa, yang harganya Rp62.000, kini  menjadi Rp81.000.

Menurut data PIHPS, Selasa (30/11), harga minyak goreng curah mencapai Rp 17.700 per kg, minyak goreng kemasan bermerk I Rp19.299 per kg dan minyak goreng kemasan bermerk II Rp18.800 per kg.

Kenaikan harga ini ternyata disebabkan oleh beberapa faktor. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan menyebutkan, faktor pertama penyebab harga minyak goreng meroket ialah adanya penurunan pasokan bahan baku minyak goreng.

"Terjadi penurunan produksi crude palm oil (CPO) dari Malaysia 8%. Kemungkinan produksi CPO di Indonesia akan turun dari target 49 juta ton mungkin hanya akan hasilkan 47 juta ton," ujar Oke, (24/11) lalu.

Produksi CPO juga turun di Kanada sebesar 6 persen. Kanada dikenal sebagai pemasok bahan baku minyak canola

Faktor kedua adalah adanya krisis energi di beberapa negara. China, India, dan beberapa negara di Eropa tengah mengalami hal tersebut.

TAGS : Warta DPR Komisi VI NasDem Martin Manurung Kemendag Minyak Goreng




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :