Rabu, 19/12/2018 01:51 WIB

Ketika Dua "Mahkota" Fithriani Direnggut di Meja Operasi

Bagaimana jadinya jika perempuan harus merelakan kedua mahkota itu direnggut di meja operasi.

Fithriani Armin

Jakarta – Payudara dan rahim adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada perempuan. Tak sedikit perempuan yang merogoh kocek ratusan juga untuk menjaga dan merawat kedua mahkota itu dengan perawatan istimewa.

Tak ada satu pun perempuan yang rela kehilangan salah satu mahkotanya. Tapi bagaimana jadinya jika perempuan harus merelakan kedua mahkota itu direnggut di meja operasi. Butuh berbagai alasan dan keberanian kuat untuk merelakan semua itu. Tapi tidak bagi seorang ibu. Ia akan rela dan tak gentar menjalaninya demi anak-anaknya.

Kejadian itu benar-benar dialami Fithriani sepuluh tahun lalu. Hebatnya, Fithriani menghadapainya dengan rasa syukur karena masih bisa bernapas hingga detik ini. Kepada Jurnas.com, perempuan asal Padang yang berulang tahun setiap 14 November ini menceritakan perjuangan beratnya melawan dua penyakit mematikan. Kanker payudara dan kanker rahim.

Kedua kanker itu berawal ketika Fithriani masih berusia 33 tahun. Kala itu, tidurnya terusik. Ia kaget ketika meraba payudara kirinya ada semacam benjolan asing. Tak sakit tapi cukup membuat jantungnya berdegup kencang. Ia takut terkena kanker payudara sementara ia masih memberikan ASI pada anaknya.

Setelah berdiskusi sesaat, Fithriani dan suami sepakat membiarkan benjolan itu hingga satu tahun ke depan, sampai anak keduanya diberikan ASI cukup. Dua tahun kemudian, benjolan di payudara kiri ibu dua anak ini belum juga hilang. Akhirnya, diantar suaminya, Fithriani memutuskan memeriksakan benjolan tersebut ke dokter.

Pada pemeriksaan pertama, Fithriani divonis memiliki Fibroadenoma alias FAM, yang selama ini umum dikenal sebagai tumor jinak di payudara. Solusinya, Fithriani hanya disarankan melakukan operasi pengangkatan benjolan.

“Dokter meyakinkan saya bahwa benjolan saya adalah FAM dan diangkat pada 24 Desember 2010,” yakin perempuan bernama lengkap Fithriani Amin ini.

Tapi, di tengah proses operasi, dokter mencurigai benjolan di payudara kirinya bukan hanya FAM. Fithriani pun harus melakukan analisis patologi anatomi jaringan. Hasilnya, dokter memvonis  Fithriani menderita kanker payudara stadium 2B ductal carcinoma invasif.

Fithriani menjelaskan saat itu ia hanya bisa menangis sejadi-jadinya karena memikirkan kedua buah hatinya yang masih balita. “Bukan main hancurnya perasaan saya,” kenangnya.

Di tengah kesedihan, Fithriani tetap bersyukur. Suami dan orang tuanya terus memberikan dukungan tanpa henti. Dia dan suami pun ikhlas untuk menjalani operasi pengangkatan payudara pada 8 Januari 2011.

Namun, operasi itu bukanlah operasi terakhirnya. Saat menjalani kemoterapi Fithriani mengalami menstruasi hebat. Hal ini bertolak belakang dengan proses kemoterapi. “Akhirnya saya dirujuk untuk periksa rahim,” katanya lirih.

Pasca diperiksa, dokter menemukan adanya penebalan di dinding rahim Fithriani. Jika dibiarkan, penebalan ini akan berubah menjadi kanker rahim, yang berisiko tinggi merenggut nyawanya. Dokter pun menyarankan Fithriani menjalani operasi pengangkatan rahim.

“Sokongan dan keridhoan suami mendamaikan saya. Akhirnya, saya pun melakukan operasi angkat rahim,” tutur Fithriani.

Kini, tujuh tahun sudah perjuangan itu berlalu. Fithriani bersyukur, di usianya yang beranjak 43 tahun, dia masih diberikan kesempatan melanjutkan hidup, setelah melewati dua penyakit ganas semasa hidupnya meski harus kehilangan dua mahkotanya.

TAGS : Kanker Payudara Kisah Menyentuh




TERPOPULER :