Rabu, 19/12/2018 02:29 WIB

Strategi Kampanye Demokrat: Cerdik dan Rawan

Strategi kampanye Partai Demokrat dengan mensosialisasikan prestasi pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tergolong cerdik, tetapi rawan mendapatkan serangan lawan.

Ketum Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyno (SBY) dan Ketua Kogasma AHY

Jakarta - Strategi kampanye Partai Demokrat dengan mensosialisasikan prestasi pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tergolong cerdik, tetapi rawan mendapatkan serangan lawan.

Demikian disampaikan Direktur Sinergi masyarakat untuk demokrasi Indonesia (Sigma) Said Salahudin, kepada Jurnas.com, Jakarta, Senin (12/11).

Menurutnya, arahan Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) agar caleg Demokrat mengkampanyekan prestasi era pemerintahan SBY memang terbilang bagus dalam pelaksanaan Pemilu serentak saat ini.

"Strategi yang diformulasikan oleh Partai Demokrat itu sebetulnya bagus. Mereka dan juga parpol-parpol yang lain tentu perlu mencari cara untuk melepaskan diri dari situasi pelik Pemilu serentak," kata Said.

Kata Said, hal itu mengingat dari sejumlah hasil survei setidaknya tergambar bahwa sejumlah partai politik (Parpol) termasuk Partai Demokrat tidak menerima dampak yang positif dalam pencalonan presiden. Hanya PDIP di koalisi Jokowi-Ma`ruf dan Gerindra di kubu Prabowo-Sandi yang mendapatkan benefitnya.

"Beruntung, Demokrat pernah punya pimpinan partai yang menjadi penguasa selama 10 tahun. Maka pencapaian di era SBY itulah yang mereka akan pakai untuk memengaruhi Pemilih dalam masa kampanye," terangnya.

Namun demikian, kata Said, sekalipun strategi kampanye Demokrat terbilang cerdik, tetapi gagasan itu memiliki celah yang bisa digunakan oleh pihak lain untuk membenturkan Demokrat dengan Prabowo.

"Publik tentu masih ingat, selama 10 tahun kepemimpiman SBY, Prabowo dan Gerindra secara konsisten mengambil peran sebagai oposisi. Jejak digital yang menggambarkan Prabowo dan Gerindra pernah menampik program-program SBY masih sangat mudah ditemukan," katanya.

Nah, lanjut Said, ketika Demokrat kini hendak menjual pencapaian SBY, perbedaan pandangan yang pernah mengemuka diantara SBY dan Prabowo atau Demokrat dan Gerindra bisa saja di `blow up` kembali oleh pihak-pihak tertentu untuk membenturkan teman sekoalisi itu.

"Tetapi hal tersebut saya kira bukan menjadi persoalan besar, sebab dalam iklim pragmatisme politik saat ini, problem semisal itu juga dialami oleh banyak partai yang lain, dulu lawan, sekarang teman, atau sebaliknya," katanya.

Sebetulnya, menurut Said, strategi yang dipakai Partai Demokrat tidak begitu penting, jika diawal pembentukan koalisi, parpol-parpol yang membangun kesepakatan untuk mendukung capres-cawapres juga menyepakati format kerjasama politik untuk Pileg.

"Pengalaman pertama di Pemilu serentak 2019 ini saya kira penting untuk dijadikan pelajaran oleh partai-partai politik untuk memperbaiki format kerjasama politik mereka di Pilpres, sekaligus di Pileg. Kalau Pemilu-nya serentak, kerjasamanya juga tentu perlu dilakukan serempak untuk dua Pemilu," katanya.

TAGS : Pemilu 2019 Kampanye Partai Demokrat Keberhasilan SBY




TERPOPULER :