Selasa, 11/12/2018 01:06 WIB

Kongres 36 GMKI Ricuh, Sahat Sinurat dan Panitia Dipolisikan

Ketua Umum (Ketum) Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI) Sahat MP Sinurat dan Ketua Pelaksana Panitia Kongres 36 GMKI Sterra Pieters dipolisikan.

Peserta Kongres GMKI, Charles Hutahaean melapor ke Polisi

Jakarta - Ketua Umum (Ketum) Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI) Sahat MP Sinurat dan Ketua Pelaksana Panitia Kongres 36 GMKI Sterra Pieters dipolisikan.

Hal itu menyusul adanya tragedi pemukulan terhadap sejumlah peserta Kongres GMKI yang diduga dilakukan oleh massa bayaran di sekitar arena kongres 36 GMKI, di Green Forest Hotel, Batutulis, Jawa Barat.

"Kami sudah melaporkan ke Polsek Bogor Selatan dan ke Polresta Bogor. Sahat Sinurat, Sterra Pieters dan gerombolannya yang sebagian diduga massa bayaran yang melakukan aksi massa dan memukuli para peserta kongres itu harus ditindak tegas dan dihukum," kata peserta kongres Charles Hutahaean yang menjadi korban pemukulan, di Jakarta, Kamis (20/9).

Charles yang maju sebagai Calon Ketua Umum PP GMKI di kongres ini mengaku sengaja dijegal dengan cara-cara curang oleh Ketua Umum PP GMKI Sahat MP Sinurat dan Ketua Pelaksana Kongres 36 GMKI Sterra Pieters.

Akibatnya, sejumlah peserta kongres GMKI menjadi korban kebringasan yang diduga massa bayaran tersebut.

"Dikejar-kejar oleh massa bayaran yang beringas, sebagian dari mereka adalah massa yang sudah mabok, karena berbau minuman keras. Semua lokasi kongres di-sweeping oleh sebagian peserta dan massa yang tak dikenal untuk menghabisi kami,” terangnya.

Ia menjelaskan, kericuhan Kongres GMKI bermula ketika pemaksaan dilakukannya persidangan kongres satu hari satu malam tanpa istirahat. Sehingga, proses pelaksanaan itu terkesan dipaksakan.

“Sudah tidak manusiawi kondisi peserta kongres. Kondisi fisik dan psikologis sudah kelelahan, ngantuk berat, lapar dan haus, tetapi kok harus dipaksakan?” ujarnya.

Charles Hutahaean dkk yang merupakan peserta dari GMKI Cabang Jakarta, melakukan interupsi kepada pimpinan Majelis Persidangan Kongres, agar di-skors sementara untuk memberikan waktu istirahat. Namun, proses interupsi itu malah direspon dengan aksi massa dan tawuran oleh sekelompok orang yang beringas.

Menurut Charles, situasi itu sudah dikondisikan dan dipaksakan oleh Ketua Umum PP GMKI Sahat MP Sinurat dan Ketua Pelaksana Kongres Sterra Pieters dkk agar kongres seolah berjalan normal, padahal sedang dipaksakan.

“Kami hendak melaksanakan kongres yang benar, malah kami yang dilempari bangku, dilempari kursi, dilempari gelas-gelas, piring dan dikejar-kejar oleh orang-orang yang sudah beringas,” ujarnya.

Pemaksaan demi pemaksaan itu terus berlanjut sehingga menimbulkan sumbatnya penyampaian aspirasi peserta kongres yang berasal dari berbagai daerah Indonesia.

“Terjadi proses persidangan kongres yang tidak fair, penyampaian aspirasi yang di-kooptasi oleh panitia dan oknum-oknum Pengurus Pusat. Alhasil, terjadi gesekan yang menimbulkan tawuran peserta, kisruh dan saling pukul-pukulan. Itu tidak terjadi sekali, tetapi beberapa kali. Namun mereka tetap memaksakan proses kongres harus diteruskan,” tutur pria yang berprofesi sebagai advokat itu.

Sebagai peserta forum kongres GMKI, Charles dan kawan-kawannya sesama peserta kongres pun menjadi korban pemukulan dan aksi massa yang sudah dipengaruhi minuman keras oleh peserta yang mabok dan orang-orang yang tak dikenal di area penyelenggaraan kongres.

“Disinyalir, orang-orang mabok dan telah disuguhi minuman keras itu adalah orang-orang suruhan panitia, orang-orang suruhannya Sterra Pieters dan Sahat MP Sinurat,” tutur Charles.

Pada hari terakhir pelaksanaan kongres yakni Rabu (19/9), sebagian peserta sudah diungsikan ke sejumlah lokasi di sekitar areal kongres. Menurut Charles, hal itu dilakukan Sterra Pieters yang merupakan politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu untuk pengkondisian.

Sementara sebagian peserta kongres lainnya tetap dipaksakan mengikuti persidangan sejak pagi hari Selasa (18/9) hingga Rabu malam, tanpa istirahat. Kondisi itu turut memancing sejumlah peserta yang kelelahan, kelaparan dan kehausan mudah tersulut emosi.

“Sebagian lagi sepertinya disuguhi minum minuman keras. Bau mulut mereka sangat berbau alhokol, termasuk orang-orang yang memukuli saya dan kawan-kawan, sudah dipengaruhi minum minuman keras. Di lokasi juga ditemukan botol-botol minuman keras, sudah diserahkan ke aparat kepolisian yang berjaga di lokasi,” ungkapnya.

Setelah menyelamatkan diri dari amukan massa, Charles dkk dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan atas luka-luka yang dialami. Setelah itu, mereka melaporkan kejadian itu ke Polsek Batutulis, Bogor Selatan dan ke Polresta Bogor.

“Ini tidak boleh didiamkan. Harus diusut tuntas,” tegas Charles.

Sementara itu, salah seorang peserta kongres yang di-sweeping oleh massa yang mengamuk, Agus Vendi Sigalingging mengungkapkan, dirinya sempat minta kebijakan Ketua Panitia Pelaksana Sterra Pieters agar menghentikan sementara proses persidangan. Malah, menurut Agus, mantan anggota DPR RI dari PDIP itu mengancam dirinya.

“Malah saya yang dituduh bikin onar. Dia (Sterra Pieters) malah ngancam saya, dia bilang ‘Apa perlu saya suruh lagi mereka-mereka (massa) untuk mukulin kamu?’ Lah, saya kaget. Kok begitu,” tutur Agus.

Agus membenarkan, di lokasi terjadi aksi minum-minuman keras oleh sebagian peserta dan massa yang tidak dikenal. Bahkan, lanjut dia, ada peserta dan oknum panitia yang memasok minum-minuman keras ke lokasi kongres.

“Mereka banyak yang mabok. Botol-botol minuman ditemukan di sejumlah lokasi dan taman-taman belakang hotel. Botol-botol itu sudah diserahkan dan disita aparat kepolisian untuk dijadikan barang bukti,” tutur Agus.

Sejumlah anggota Kepolisian dan Tentara yang bertugas berjaga di sekitar lokasi terpelongo dengan temuan botol-botol minuman keras itu. Mereka berjanji akan segera melakukan pengusutan.

Sementara itu, peserta kongres lainnya Jepri Johannes Pangaribuan, mengalami luka pukulan-pukulan keras dan benda tajam. Anggota GMKI Cabang Jakarta ini mengeluhkan sakit teramat di bagian rusuk sebelah kanan dan kaki kanan yang ditusuk dengan benda tajam saat dirinya dihakimi massa beringas.

“Dada, kepala dan bagian rusuk saya terasa masih sangat sakit. Kaki saya ditusuk benda tajam,” ujar Jepri.

Jepri juga menyampaikan, dirinya mengenal persis beberapa orang yang menendangi dan memukulinya. “Ada Sahat Sinurat (Ketua Umum PP GMKI) dan ada Yosroha (Bendahara Umum PP GMKI) ikut menendangi saya. Saya kenal dia. Ikut marah ke arah saya, mengejar saya dan memukuli saya. Kok gitu dia ke saya. Kak Sterra (Sterra Pieters) juga ada,” ungkap Jepri yang merupakan teman kerja Sahat MP Sinurat di Kelompok Keja (Pokja) Pers PP GMKI ini.

Jepri mengaku sudah melaporkan kekerasan dan aksi massa yang dialaminya itu ke aparat kepolisian. “Sudah lapor ke Polisi,” ujarnya.

Sementara itu, salah seorang peserta Kongres 36 GMKI, Rossano J Tabaga mengungkapkan, dirinya yang mengikuti persidangan kongres di dalam Aula Hotel Green Forest  itu kaget dengan tiba-tiba merangseknya sejumlah orang yang tidak dikenal ke dalam arena kongres.

Rossano yang masih hendak melakukan interupsi kepada Pimpinan Majelis Persidangan agar kongres di-skors sementara melihat kondisi yang sudah tidak memungkinkan itu, tidak digubris.

“Malah saya didatangi Panitia Kongres dan Ketua Umum Sahat MP Sinurat, dan menuduh saya hendak menghentikan kongres. Padahal itu situasinya sudah tidak memungkinkan meneruskan persidangan. Malah saya yang diancam dan ditunjuk-tunjuk oleh mereka," kata Rossano.

Peserta Kongres dari utusan GMKI Cabang Jakarta ini pun mengaku tidak bisa berbuat apa-apa sebab bangku-bangku, kursi-kursi sudah dilempari ke dalam ruangan persidangan. Para peserta kocar kacir dan histeris.

“Lampu ruangan kongres sempat padam. Gelap gulita. Suasana chaos. Suara-suara teriakan, bentak-bentak, berlarian dan histeris, suara benda-benda jatuh karena dilempar pun terjadi,” ungkapnya.

Anehnya, lanjut Rossano, beberapa saat kemudian proses persidangan dipaksakan dilanjutkan dengan agenda pemilihan Ketua Umum dan Sekretaris Umum. Padahal, agendanya belum ke tahap itu.

“Ada upaya pemaksaan dengan melompati agenda kongres. Sampai subuh kita masih membahas Komisi Lembaga-lembaga Bentukan, di urutan ke tujuh agenda. Kok mendadak Majelis Persidangan melompati dan memaksa pembahasan agenda Komisi Kriteria (Kriteria Pengurus Pusat GMKI), dan usai chaos langsung digelar pemilihan. Aneh dan melanggar,” tutur Rossano.

Akibat kerusuhan serta aksi massa dan tawuran yang terjadi di lokasi kongres, tidak kurang dari enam orang anggota GMKI Jakarta yang merupakan peserta kongres mengalami luka serius harus dilarikan ke rumah sakit. Mereka yang menjadi korban adalah Charles Hutahaean, Michael Nababan, Jepri Johannes Pangaribuan, Wira Leonardi Sinaga, Bangun Tri Anugrah Sitorus dan Kristofel Manurung.

Rossano menyampaikan, Pengurus Pusat GMKI bersama Panitia Pelaksana Kongres harus bertanggung jawab terhadap para korban yang mengalami luka-luka itu. “Kongres ini tidak sah. Mereka harus bertanggung jawab,” pungkas Rossano.

Menurut Rossano, Kongres 36 GMKI diselenggarakan di Jakarta, sesuai Keputusan Kongres 35 GMKI di Tarutung. Sebagai Tuan Rumah Kongres 36 GMKI, lanjut dia, seharusnya kongres itu dilaksanakan di Jakarta. Namun, PP GMKI dan Panitia Bentukannya memaksakan penyelenggaraan di Batutulis, Bogor.

Kongres 36 GMKI dijadwalkan berlangsung para tanggal 12 September 2018 hingga 17 September 2018. Namun, telah terjadi kecurangan penyelenggaraan, karena dibuka para 14 September 2018 dengan menghadirkan Presiden Jokowi. Hingga kisruh pada 19 September 2018, kongres sudah melewati jadwal. “Kongres 36 GMKI ini harus diaudit dan diusut tuntas,” pungkas Rossano.

TAGS : Kongres GMKI Presiden Jokowi Polisi




TERPOPULER :