Selasa, 14/07/2026 19:17 WIB

Wacana Tarif di Selat Hormuz, Presiden Brasil Sebut AS Pembajak





Presiden Brasil menilai wacana Trump mengenakan biaya besar pada kapal-kapal yang transit di Selat Hormuz, akan mengubah Amerika Serikat menjadi pembajak

Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva di Istana Planalto di Brasilia, Brasil, 14 Maret 2024. REUTERS

Rio de Janeiro, Jurnas.com - Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menilai wacana Presiden Donald Trump mengenakan biaya besar pada kapal-kapal yang transit di Selat Hormuz, akan mengubah Amerika Serikat menjadi negara pembajak.

Trump sebelumnya bersumpah untuk memberlakukan kembali blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di selat tersebut, dan mengenakan pungutan sebesar 20 persen pada semua kargo yang dikirim melalui Hormuz sebagai biaya keamanan.

Teheran mulai memblokir saluran utama untuk pengiriman minyak bumi tersebut, setelah AS dan Israel melancarkan serangan pada akhir Februari, yang mendorong Washington untuk menghentikan pelayaran dari dan ke pelabuhan-pelabuhan Iran.

Pembatasan tersebut dilonggarkan setelah kedua belah pihak pada Juni lalu mencapai kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang, tetapi Trump bersumpah untuk memberlakukannya kembali menyusul kembali berkobarnya pertempuran.

"Presiden Trump mencuit bahwa dia akan membuka blokade Selat Hormuz. Namun untuk setiap kapal yang dibuka blokadenya, setiap kapal yang dikeluarkan dari selat, pemilik minyak harus membayarnya 20 persen. Ini dulunya dianggap sebagai pembajakan," ujar Lula dikutip dari AFP pada Selasa (14/7)

"Sebuah negara besar seperti Amerika Serikat, yang saya yakini telah lama berjuang melawan pembajakan, tidak bisa sekarang menjadi pembajak," dia menambahkan.

Lula juga memperingatkan bahwa konflik tersebut telah mendorong kenaikan harga bahan makanan pokok di Brasil termasuk kacang-kacangan, beras, tomat, dan bawang, serta bahan bakar.

KEYWORD :

Luiz Inacio Lula da Silva Presiden Brasil Blokade Selat Hormuz Pembajakan AS




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :