Minggu, 18/11/2018 02:01 WIB

PBB Defisit Rp2 Triliun

Melalui sebuah surat yang dikirim ke negara-negara anggota, Guterres mengatakan bahwa pada 30 Juni, simpanan inti PBB defisit sebesar USD139 juta atau sekira Rp2 triliun

Sekjen PBB Antonio Guterres (Foto: Financial Tribune)

United Nation - Antonio Guterres memperingatkan, bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sudah kehabisan uang tunai. Ia mendesak negara anggota segera mungkin membayar utang mereka.

Melalui sebuah surat yang dikirim ke negara-negara anggota, Guterres mengatakan bahwa pada 30 Juni,simpanan inti PBB defisit sebesar USD139 juta atau sekira Rp2 triliun.

"Suatu organisasi seperti kita seharusnya tidak harus menderita berkali-kali dengan kebangkrutan. Tetapi tentunya, rasa sakit yang lebih besar dirasakan oleh orang-orang yang kami layani ketika kami tidak dapat membantu mereka karena kekurangan dana," tulis Guterres.

Pada Desember, pnitia anggaran Majelis Umum PBB setuju pada Desember tentang anggaran inti sebesar USD5,4 miliar untuk 2018-2019.

Menurut PBB, 112 dari 193 negara anggota sejauh ini telah membayar bagian mereka dari anggaran inti. Amerika Serikat, yang bertanggung jawab 22 persen dari anggaran, secara tradisional membayar kemudian karena tahun anggarannya.

Juli tahun lalu, 116 negara telah membayar, dibandingkan dengan 98 pada 2016. China, Perancis, Rusia dan Inggris, anggota tetap Dewan Keamanan PBB bersama dengan Amerika Serikat, semuanya membayar untuk 2018.

"Kami kehabisan uang tunai lebih cepat dan dalam keadaan prihatin," ujar Guterres.

Ia mengatakan PBB akan mengambil langkah-langkah untuk mengurangi biaya dengan fokus pada biaya non-staf.

Pada Januari tahun lalu, Haley mendorong reformasi PBB upaya untuk memotong biaya.

"Ketidakefisienan dan pembelanjaan yang berlebihan dari PBB sudah sangat dikenal. Kami tidak akan lagi membiarkan kemurahan hati rakyat Amerika dimanfaatkan atau tetap tidak terkendali," katanya pada bulan Desember, ketika anggaran inti disepakati.

Berdasarkan aturan PBB jika suatu negara menunggak dalam jumlah yang sama dengan atau melebihi kontribusi yang diberikan untuk dua tahun sebelumnya, ia dapat kehilangan suara Majelis Umumnya kecuali negara tersebut dapat menunjukkan ketidakmampuannya untuk membayar berada di luar kendalinya.

Saat ini Komoro, Guinea Bissau, Sao Tome dan Principe dan Somalia secara signifikan menunggak tetapi telah diizinkan untuk mempertahankan suara mereka. Hanya Libya yang tidak dapat memilih.

TAGS : PBB Antonio Guterres Amerika Serikat




TERPOPULER :