Kebijakan impor beras merupakan cerminan bahwa kerja keras petani selama ini tidak dihargai sama sekali. Padahal petani adalah tulang punggung atas berbagai proses jalanya pembangunan pertanian nasional.
Pemerintah perlu berkomitmen agar memperbaiki kebijakan impor ini agar tidak menyakiti petani dan menyakiti rakyat Indonesia.
Petani sempat merugi karena rendahnya harga cabai akibat pandemi covid-19 yang terjadi pada bulan Maret s.d September 2020.
Selama ini Bulog selalu kalah berasing untuk menyerap beras karena ketidakmampuan bersaing dalam hal harga pembelian dibandingkan para tengkulak.
Impor beras untuk memperkuat cadangan beras nasional sulit diterima. Pasalanya, dalam 2-3 minggu ke depan akan terjadi panen raya.
Salah satu penyebab lahan sawah dijual dan beralih fungsi ke non pertanian adalah berubahnya mindset petani.
Sebagai salah satu institusi penyelenggara pendidikan vokasi pertanian, Polbangtan Yoma diberi mandat untuk mencetak generasi petani milenial yang handal dan terjamin kompetensinya.
Didukung dengan inovasi dan mekanisasi, maka petani akan menguasai pertanian dari hulu ke hilir sebagai bisnis bukan sekadar bertani.
Kalau impor beras sekarang ini dilakukan maka tentu saja akan menghancurkan harga di tingkat petani.
Di Indramayu, sebanyak 100 orang petani dan penyuluh mengikuti Bimtek yang diadakan di Hotel Wiwi Perkasa II, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.