Pernyataan Zarif itu disampaikan setelah Inggris mengeluarkan ancaman atas penyitaan kapal berbendera Inggris pada Jumat (19/7). Stena Impero ditangkap dan dilakukan penyelidikan setelah kapal tanker itu menabrak kapal nelayan Iran di Teluk Persia.
Penyitaan kapal tanker minyak Iran yang dilakukan Inggris di Selat Gibraltar belum mempengaruhi pasokan minyak negaranya.
Para anggota parlemen mengatakan, beberapa minggu terakhir telah menyaksikan tindakan sabotase yang mencurigakan di wilayah tersebut serta penyitaan ilegal sebuah kapal tanker Iran oleh pemerintah Inggris.
Komisi Eropa menyatakan "keprihatinan mendalam" atas penyitaan kapal tanker minyak Inggris di Selat Hormuz.
Arab Saudi menolak membiarkan kapal itu pergi, dan pada saat yang sama menuntut agar Iran membayar biaya labuh sebesar USD200.000 atau sekitar Rp2,8 miliar per hari.
Dalam suratnya, Inggris mengungkapkan bahwa tanker tersebut didekati oleh militer Garda Revolusi Iran, ketika sedang berada di perairan Oman.
Seluruh awak yang terdiri dari 23 orang di kapal tanker itu sekarang diamankan di pelabuhan Bandar Abbas, dan akan tetap di kapal sampai akhir penyelidikan.
Situs resmi IRGC Sepahnews mengumumkan, kapal tanker Stena Impero disita atas permintaan Pelabuhan Hormozgan dan Organisasi Maritim saat melewati Selat Hormuz, karena tak mematuhi aturan laut internasional.
Kapal tanker minyak milik Emirat menghilang di Teluk Persia selama tiga hari berturut-turut.
Penyitaan kapal itu terjadi atas permintaan Amerika Serikat (AS), yang mengingkan ekspor minyak Iran ke tingkat "nol" sebagai bagian dari sanksi terhadap Republik Islam.