Pada Senin (6/12), Gedung Putih mengatakan pejabat pemerintah AS akan memboikot Olimpiade Musim Dingin karena "kekejaman" hak asasi manusia China, meskipun atlet AS bebas bepergian ke sana untuk bersaing.
Keputusan itu diambil setelah AS menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk berdebat dengan posisi apa yang akan diambil pada Olimpiade, yang diselenggarakan pada Februari tahun oleh negara yang dituduh melakukan "genosida" terhadap Muslim Uyghur di wilayah barat laut Xinjiang.
Amerika Serikat (AS) mendesak Rusia dan Ukraina segera mencari jalan keluar diplomatik, di tengah pertikaian kedua negara.
Boikot diplomatik di Olimpiade itu sebagai protes atas pelanggaran hak asasi manusia di China
Beijing menurunkan hubungan diplomatik dengan Lituania pada Minggu untuk menunjukkan kemarahan atas pemindahan kedutaan secara de facto.
Pernyataan Pangeran Faisal telah menghancurkan harapan di Beirut akan solusi untuk memperdalam keretakan diplomatik dengan Riyadh, ketika Lebanon berjuang dengan kelumpuhan politik dan ekonomi yang runtuh.
Kedua negara juga telah membuat MOU pembebasan visa resiprokal bagi pemegang paspor diplomatik, paspor dinas dan paspor khusus yang rencananya diberlakukan Awal Desember 2021.
aiwan, yang diklaim China sebagai wilayahnya sendiri dan tidak mengesampingkan pengambilan secara paksa, tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan negara-negara Eropa selain Kota Vatikan.
Wawancara menteri itu dilakukan setelah komentar dari Menteri Informasi Lebanon George Kordahi tentang perang Yaman memicu perselisihan diplomatik dengan negara-negara Teluk.
Pyongyang menembakkan jenis baru rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam (SLBM) pada Selasa, yang terbaru dalam serangkaian tes dalam beberapa pekan terakhir, mendorong AS dan Inggris untuk mengadakan pertemuan diplomatik di New York.