Tahun ini pertama kalinya Iran mengekspor bensin, tetapi harga pompa bensin yang murah membuat pejabat Iran mengupayakan rekor permintaan baru di tengah negara itu menghadapi sanksi Amerika Serikat (AS) yang paling ketat.
Sejumlah oknum itu adalah kelompok teror Organisasi Mujahidin-e Khalq (MKO) dukungan Amerika Serikat (AS), para royalis dan juga separatis.
Markus Leitner dipanggil ke Kementerian Luar Negeri Iran untuk menyampaikan keluhan mengenai ekspresi dukungan AS terhadap sejumlah kerusuhan yang melanda sejumlah kota Iran selama beberapa hari terakhir.
Protes di Iran terjadi saat karena sebagian orang tidak diinformasikan dengan benar dan secara rinci keuntungan yang akan diterima dari kebijakan yang bertujuan membantu warga membutuhkan.
Akibatnya, demonstrasi berubah menjadi kekerasan di beberapa kota, Bentrokan antara pasukan keamanan dan unsur-unsur tertentu merusak properti publik.
Aksi damai untuk memprotes kenaikan harga bensin banyak dimanfaatkan kaum anarkis menghancurkan properti publik dan membakar bank dan pompa bensin di antara fasilitas lainnya.
Para pengunjuk rasa berusaha untuk membakar sebuah depot bahan bakar di pusat kota Sirjan tetapi dihalangi pasukan keamanan.
Iran mulai menjatah bensin dan secara substansial meningkatkan harga bahan bakar. Konon pendapatan tersebut akan digunakan untuk membantu warga negara itu yang kurang mampu.
Keputusan itu memicu unjuk rasa di sejumlah kota Iran. Elemen-elemen oportunis berusaha mengeksploitasi situasi dan menggerakkan gelombang protes damai terhadap kenaikan harga bahan bakar.