Washington akan tetap fokus pada tantangan militer dari Beijing.
Rudal hipersonik jauh lebih cepat dan lebih gesit daripada yang normal, yang berarti lebih sulit untuk dicegat. Kabar itu memicu kekhawatiran AS soal kemampuan nuklir China.
Laporan pada Sabtu malam (16/10) mengatakan militer China meluncurkan roket yang membawa kendaraan luncur hipersonik yang terbang melalui ruang orbit rendah, mengelilingi dunia sebelum meluncur menuju sasarannya, yang meleset sekitar dua lusin mil.
DK PBB bertemu secara tertutup pada Jumat atas permintaan dari Amerika Serikat (AS) dan negara-negara lain mengenai peluncuran rudal Korea Utara.
Tes tersebut menyoroti bagaimana Korea Utara terus mengembangkan senjata yang semakin canggih, meningkatkan pertaruhan upaya untuk menekannya agar menghentikan program nuklir dan misilnya dengan imbalan keringanan sanksi AS.
Pengembangan sistem senjata meningkatkan kemampuan pertahanan Korea Utara, kata KCNA, menggambarkan rudal hipersonik sebagai senjata strategis.
Hal itu terjadi saat duta besar Pyongyang untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersikeras bahwa mereka memiliki hak yang tidak dapat disangkal untuk menguji senjatanya.
Anggota NATO, Turki dikeluarkan dari program F-35 dan pejabat pertahanan diberi sanksi setelah membeli sistem pertahanan rudal S-400 buatan Rusia.
Foto-foto media dari rudal Korea Selatan terbaru menunjukkan "ceroboh" yang bahkan tidak berbentuk rudal balistik yang diluncurkan SLBM.
Washington mengutuk uji coba Korea Utara dan uji coba terpisah beberapa hari sebelumnya yang menurut para ahli bisa menjadi rudal jelajah pertama yang mampu membawa hulu ledak nuklir sebagai ancaman bagi tetangganya.