Nasir menyebut program Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sajana Unggul (PMDSU), berhasil menyumbang banyak jumlah publikasi internasional.
Nasir mengatakan, salah satu tantangan yang masih dihadapi Indonesia saat ini ialah belum sebandingnya jumlah mahasiswa dan jumlah dosen dengan jumlah publikasi yang dihasilkan.
Muhammad Dimyati mengatakan, selisih jumlah publikasi internasional Indonesia dan Malaysia saat ini hanya terpaut tiga paper.
Laporan ini muncul dalam publikasi kantor berita resmi Korut edisi Minggu (23/6), yang menyebut Kim memperoleh `surat istimewa`.
Untuk mensosialisasikan dan mengabarkan berita acara itu, Menurut Budi Muliawan, Humas MPR membutuhkan dukungan media untuk melakukan publikasi.
Jumlahnya, menurut keterangan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mencapai 30.924 publikasi internasional. Sementara Malaysia sudah mengumpulkan 31.968 publikasi.
Kegiatan yang digelar di Benoa, Bali, itu diselenggarakan untuk mengevaluasi kinerja publikasi dan diseminasi informas yang telah dilakukan oleh Biro Humas Setjen MPR selama satu tahun.
Nasir mengakui saat ini publikasi internasional Indonesia secara kualitas masih rendah, dibuktikan dengan banyaknya publikasi masuk di kategori Q3 dan Q4 dalam perangkingan internasional.
Biro Humas MPR menggelar media expert meeting untuk mendapatkan masukan dari kalangan awak media bagi evaluasi pemberitaan publikasi kegiatan MPR.
Pasalnya, secara matematis Indonesia memiliki potensi publikasi yang melimpah bila melihat jumlah guru besar dan lektor kepala di perguruan tinggi.