Namun baru-baru ini, pemerintah AS telah menghentikan retorikanya, dengan Presiden AS Donald Trump dilaporkan mengatakan kepada pembantunya untuk menghindari bentrokan militer dengan Iran.
Takht-Ravanchi menegaskan bahwa justru Teheran menjadi korban terbesar dan musuh terkuat terorisme di kawasan itu.
Pemerintahan Trump juga memperingatkan adanya indiksi yang menunjukkan Iran sedang berencana menyerang pasukan AS dan sekutunya.
Clinton mengkritik keputusan secara sepihak Trum menarik diri dari perjanjian nuklir.
Iran menegaskan tidak akan pernah meninggalkan tujuannya meskipun dihantam bom
Ketegangan memanas antara kedua negara setelah Washington mengerahkan pasukan militer ke Timur Tengah.
Murphy mengatakan Trump bisa saja menjadikan dalil ketegangan dengan Iran untuk membenarkan memasok lebih banyak senjata ke Arab Saudi.
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei menyampaikan ketidaksetujuannya dengan implementasi perjanjian nuklir 2015.
Utusan AS di Baghdad mengatakan Washington telah membebaskan Baghdad dari beberapa sanksi anti-Iran.
AS berusah mengobarkan Iranophobia agar leluasa memeras susu negara-negara Arab di kawasan itu.