Kampanye vaksinasi COVID-19 Yaman dimulai di daerah yang dikuasai pemerintah tiga minggu setelah pengiriman pertama dari skema berbagi vaksin COVAX global tiba di negara yang dilanda perang.
Venezuela berada menghadapi gelombang kedua pandemi, yang telah membebani sistem kesehatannya yang sudah kekurangan dana.
Daftar WHO darurat merupakan prasyarat untuk pembelian oleh fasilitas berbagi vaksin COVAX yang dirancang untuk mendapatkan suntikan ke negara-negara miskin.
Kementerian Kesehatan Malaysia memberikan persetujuan bersyarat untuk vaksin AstraZeneca yang akan dipasok melalui fasilitas COVAX oleh produsen Korea Selatan SK Bioscience.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengimbau negara-negara dengan kelebihan pasokan vaksin untuk segera menyumbangkan 10 juta dosis ke fasilitas COVAX yang dijalankan dengan aliansi vaksin GAVI.
Venezuela, bersama dengan sekutu pemimpin oposisi Juan Guaido, sedang dalam pembicaraan untuk membeli vaksin dari program COVAX menggunakan dana yang dibekukan di Amerika Serikat (AS).
WHO menyerukan agar lebih banyak produsen mengadopsi model ini untuk meningkatkan pasokan, termasuk untuk program berbagi vaksin COVAX yang berupaya mempercepat lebih banyak tembakan ke negara-negara berkembang.
Pengiriman pertama berasal dari pengiriman satu juta dosis vaksin AstraZeneca Serum Institute India (AZSII).
Indonesia menerima 1,1 juta dosis vaksin AstraZeneca melalui skema aliansi vaksin COVAX bulan ini dan akan menerima sekitar 10 juta lagi dalam dua bulan ke depan.
COVAX diinisiasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Rencananya akan mendistribusikan secara gratis 237 juta dosis vaksin ke 142 negara sampai akhir Mei 2021.