"Ini takdir Alloh SWT. Nama Prabowo belum tertulis dalam Arsy Alloh SWT sebagai presiden. Jadi jangan coba-coba melawan takdir," ujar Habib Sholeh.
BPN Prabowo-Sandiaga mencium aroma kecurangan sistemik di Pilpres 2019. Mulai dari indikasi ketidaknetralan aparat Kepolisian hingga upaya penghilangan suara masyarakat dalam proses perhitungan hasil Pemilu.
“Kubu 02 sedang membangun halusinasi seolah-olah menang dan sudah menjadi presiden dan wakil presiden," ungkap Teuku Neta Firdaus.
Pihak BPN menyarankan agar Erin Taulany membuat permintaan maaf terbuka meski kasus ini tidak diperpanjang.
"Kalau kebenaran dan takdir Alloh SWT sudah diingkari, maka lama-lama keyakinan akidah juga diingkari. Ini yang bahaya," ujar Habib Sholeh.
Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga mengaku telah mengantongi ribuan indikasi kecurangan Pemilu serentak 2019 di berbagai daerah Indonesia.
Dari 813.350 Tempat Pemungutan Suara (TPS) sudah masuk 37.757 TPS. Artinya masih ada sekitar 775.593 TPS yang belum masuk.
Sikap Prabowo ini bisa dipengaruhi kejiwaannya, psikisnya yang dalam istilah Bang Rizal Mallarangeng (Ketua DPD Golkar DKI Jakarta) itu delusi.
"Pak Prabowo ketika memenangkan Anies - Sandi pakai quick qount. Sebagai sebuah metode hitung cepat yang sangat akurat," ujar Hasto.
Berdasarkan hasil real count yang dimuat di sistem Informasi Penghitungan Suara KPU, pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Jokowi-Ma`ruf Amin masih unggul sementara dari Prabowo-Sandiaga.