Rouhani menguraikan strategi dan rencananya dalam menangani berbagai masalah yang dihadapi negara Negeri Para Mullah, khususnya penarikan AS dari kesepakatan multinasional 2015.
Rouhani mengatakan akan melakukan negosiasi dengan AS setelah terlebih dahulu kembali pada kesepakatan nuklir Iran dan mencabut sanksi yang telah diberlakukan sejak penarikan.
Penggunaan dolar Amerika Serikat (AS) sebagai senjata untuk menyerang negara lain hanya akan menyusahkan warga biasa.
Pernyataan itu disampaikan Rouhani dalam laman resminya, seusai menghadiri Sidang Umum PBB di New York, pada Jumat (27/9).
Amerika Serikat (AS) melakukan tindakan agresif terhadap seluruh bangsa, sementara PBB tetap membisu.
Rouhani menutup pintu dialog dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait nuklir, jika tidak ada itikad Washington untuk menghapus sanksi.
Sebagai contoh AS pendukung terorisme adalah keterlibatan militer Washington di Suriah tanpa izin dari Presiden Bashar al-Assad.
Hormuz Peace Initiative dirancang untuk mencakup semua negara di kawasan itu dan bertujuan memperluas kerja sama di luar keamanan regional.
Iran mengulurkan tangan persahabatan dan persaudaraan kepada semua tetangganya dan bahkan siap melupakan kesalahan masa lalu karena musuh-musuh Islam berusaha mengambil keuntungan dari keretakan di antara negara-negara kawasan.
Rouhani membeberkan, AS dan Israel mendukung Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dalam perang di Yaman. Melengkapi mereka dengan senjata dan intelijen.