Anggaran itu juga dimaksudkan untuk menentang dan melawan sanksi Amerika Serikat (AS).
Presiden Hassan Rouhani menegaskan bahwa Iran masih siap untuk perundingan nuklir, dengan syarat Amerika Serikat (AS) pertama-tama harus mencabut sanksi.
Keputusan itu memicu unjuk rasa di sejumlah kota Iran. Elemen-elemen oportunis berusaha mengeksploitasi situasi dan menggerakkan gelombang protes damai terhadap kenaikan harga bahan bakar.
Harga satu liter bensin reguler naik hingga 15.000 real dari 10.000 real dan rasio bulanan untuk setiap mobil pribadi ditetapkan sebesar 60 liter per bulan
Rouhani menekankan bahwa Iran sudah berhasil membalas upaya Washington untuk menargetkan Teheran melalui sanksi ekonomi dan tekanan regional.
Iran selalu siap mengembangkan kerja sama maritim dengan Azerbaijan di lembah Kaspia sehubungan dengan eksplorasi (sumber daya bawah laut) dan (perlindungan) lingkungan
Rouhani menggambarkan Iran sebagai negara kunci dan berpengaruh di kawasan Timur Tengah.
Pihak kapal menolak laporan media dan mengklaim bahwa kapal itu menyebabkan pencemaran lingkungan ketika sedang dalam perjalanan kembali ke Iran.
Rouhani mengatakan, sangat memalukan bagi AS setelah menarik diri dari perjanjian nuklir multilateral 2015 yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan memberlakukan kembali sanksi ekonomi yang keras terhadap Iran.
Iran terbuka untuk pembicaraan regional dan membantu perjalanan para tamu Emirat ke Teheran selama beberapa bulan terakhir untuk menyelesaikan masalah bilateral.