Pergantian Ade Komaruddin (Akom) sebagai Ketua DPR kepada Setya Novanto (Setnov) merupakan hak prerogatif Partai Golkar.
Presiden Jokowi dituding di balik pencopotan Ade Komaruddin (Akom) sebagai Ketua DPR. Golkar dinilai telah menjadi alat kepentingan kekuasaan.
Dia Ketua Umum Partai Golkar kemudian akan merangkap sebagai Ketua DPR. Ini sangat rawan sekali terhadap penyalahgunaan kewenangan
Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto (Setnov) dinilai picik terkait pencopotan Ade Komaruddin sebagai Ketua DPR.
Golkar tidak bisa seenak dan semaunya sendiri gonta-ganti Ketua DPR. Sebab pemilihan ketua DPR memiliki aturan yang harus diikuti. Golkar jangan semau sendiri jadikan Setya Novanti jadi Ketua DPR.
Rapat pleno Partai Golkar memutuskan untuk mencopot Ade Komaruddin (Akom) sebagai Ketua DPR. Sementara, Setnov didorong kembali pimpin DPR.
Meski kedekatan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan Presiden Jokowi mendapat penilaian positif, namun Gerindra tetap konsisten di barisan oposisi.
Informasi pencopotan Ade Komaruddin sebagai Ketua DPR beredar. Informasi pencopotan Akom tersebut dari politikus muda Partai Golkar Indra J Piliang.
Fayakhun Andriadi menilai ada skenario politis yang mengarah pada kedudukan presiden Joko Widodo (Jokowi)
Awalnya, santer tersiar kabar rapat tertutup yang melibatkan sejumlah pengurus teras DPP Golkar merekomendasikan pencopotan terhadap posisi Akom sebagai ketua DPR