Jakarta, Jurnas.com - Gelombang protes terhadap ekspansi data center kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dijadwalkan berlangsung di sejumlah negara Eropa pada Jumat dan Sabtu. Kelompok penggerak kampanye Stop Dirty Data Centres menyerukan penghentian sementara pembangunan datacenter berskala besar karena dinilai menimbulkan berbagai dampak bagi masyarakat dan lingkungan.
Melalui laman kampanyenya, kelompok tersebut mengajak masyarakat di berbagai wilayah Eropa untuk bersatu menyuarakan penolakan terhadap pembangunan data center AI yang terus meluas.
"Komunitas lokal bangkit untuk menghentikan pusat data kotor di tempat tinggal mereka. Kami akan bersatu dan menggunakan hak demokratis untuk berbicara, berkumpul, serta berunjuk rasa guna meminta pertanggungjawaban para pejabat terpilih," tulis kelompok itu.
Kampanye Stop Dirty Data Centres mendesak diberlakukannya moratorium segera terhadap pembangunan data center berukuran besar di Eropa. Mereka menilai ekspansi fasilitas yang menopang perkembangan teknologi AI tersebut telah membawa konsekuensi yang tidak lagi dapat diabaikan.
"Ledakan pusat data AI di kota-kota dan kawasan permukiman kita menimbulkan beban yang tidak lagi mampu kita tanggung," demikian pernyataan kelompok tersebut.
Menurut penyelenggara kampanye, pembangunan pusat data berpotensi memengaruhi kehidupan masyarakat setempat, mulai dari lapangan kerja dan perekonomian hingga krisis iklim serta ketersediaan air. Mereka juga menyoroti kemungkinan dampak lain, seperti kelangkaan perumahan dan kenaikan tagihan energi.
Selain persoalan lingkungan dan ekonomi, kelompok itu memperingatkan risiko rantai pasok yang beracun, meningkatnya pengawasan, serta terkikisnya privasi masyarakat. Mereka juga menilai dominasi perusahaan teknologi besar dapat melemahkan demokrasi.
Kelompok penggerak kampanye menyatakan koordinasi aksi lintas negara diperlukan untuk menunjukkan kekuatan masyarakat dalam mengawasi ekspansi data center AI.
"Dengan mengoordinasikan aksi, kami menunjukkan kekuatan yang dimiliki masyarakat untuk menghentikan ekspansi pusat data AI yang tidak terkendali dan mencegah demokrasi disandera oleh kepentingan industri teknologi besar," lanjut pernyataan tersebut.
Mereka mendesak para pemimpin di tingkat lokal, nasional, hingga Eropa untuk menerapkan moratorium pembangunan data center. Penghentian sementara itu diharapkan berlangsung sampai masyarakat melalui proses demokratis menentukan kebutuhan pengembangan AI dan pusat data.
Menurut kelompok tersebut, kebijakan terkait teknologi itu harus memastikan AI dan data center memberikan manfaat bagi masyarakat serta lingkungan, bukan hanya memenuhi kepentingan keuntungan perusahaan.
Sejumlah aksi unjuk rasa dijadwalkan berlangsung pada Jumat dan Sabtu di berbagai negara Eropa. Negara-negara yang masuk dalam rencana mobilisasi tersebut antara lain Prancis, Spanyol, Italia, Belgia, Austria, Kroasia, Polandia, Jerman, Inggris, Irlandia, Denmark, dan Finlandia. (*)
Sumber: Anadolu





