Jakarta, Jurnas.com - Pengungkapan kasus penyadapan ilegal yang menyasar Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto kembali membuka lembar kelam sejarah pengawasan komunikasi para pimpinan negara.
Penyadapan terhadap kepala negara bukanlah fenomena baru, melainkan bentuk pelanggaran keamanan dan privasi yang berulang kali terjadi, baik melalui operasi intelijen asing maupun penyalahgunaan wewenang di tingkat domestik.
Atas kasus ini, Bareskrim Polri menetapkan tiga perwira tinggi Kepolisian RI sebagai tersangka dalam kasus penyadapan tak berprosedur terhadap Presiden Prabowo, pejabat negara, tokoh politik, hingga insan media.
Kasus ini menambah panjang daftar presiden dan pemimpin dunia yang pernah menjadi sasaran intersepsi komunikasi. Berikut ini daftar presiden dan pemimpin negara yang pernah menjadi target penyadapan:
1. Prabowo Subianto (Indonesia)
Presiden RI Prabowo Subianto menjadi korban penyadapan ilegal yang dilakukan tanpa prosedur hukum maupun keterkaitan dengan penegakan hukum pada kurun 2025 hingga 2026. Kasus ini diungkap oleh Kabareskrim Polri Komjen Pol Asep Safrudin setelah menetapkan tiga tersangka perwira tinggi Polri, yakni Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Irjen Ahrie Sonta Nasution, dan Irjen Eko Hadi Santoso. Penyadapan dilakukan dengan memasukkan nomor telepon pribadi ke dalam sistem Lawful Interception Management System (LIMS) Polri tanpa proses verifikasi.
2. Susilo Bambang Yudhoyono (Indonesia)
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi target operasi penyadapan oleh badan intelijen Australia, Defence Signals Directorate (DSD), selama 15 hari pada Agustus 2009. Kasus ini terungkap pada November 2013 melalui dokumen rahasia yang dibocorkan mantan kontraktor NSA, Edward Snowden. Selain SBY, pengawasan juga menyasar Ibu Negara Ani Yudhoyono, Wakil Presiden Boediono, mantan Wapres Jusuf Kalla, hingga Sri Mulyani. Skandal ini memicu ketegangan diplomatik hingga penarikan Duta Besar RI dari Canberra.
3. Megawati Soekarnoputri (Indonesia)
Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri secara terbuka mengungkapkan bahwa dirinya merasa menjadi orang yang paling sering disadap di Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan pada Oktober 2024 saat meresmikan sekretariat organisasi di Jakarta. Karena alasan keamanan privasi tersebut, Megawati memilih untuk tidak menggunakan telepon seluler. Ia bahkan berseloroh sering langsung menyapa pihak penyadap saat merasa jengkel ketika sedang menelepon.
4. B.J. Habibie (Indonesia)
Presiden ke-3 RI B.J. Habibie terseret skandal kebocoran percakapan telepon dengan Jaksa Agung Andi Muhammad Ghalib pada Desember 1998. Rekaman percakapan yang membahas penanganan kasus hukum Presiden ke-2 RI Soeharto tersebut dipublikasikan oleh Majalah Panji Masyarakat pada Februari 1999. Menanggapi pembocoran percakapan rahasia negara tersebut, Habibie memerintahkan penyelidikan dan mengecam tindakan tersebut sebagai kejahatan intelektual (intellectual criminal acts).
5. Joko Widodo (Indonesia)
Dugaan penyadapan terhadap Joko Widodo mencuat pada tahun 2013 saat ia masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Perangkat penyadap dilaporkan ditemukan di sejumlah ruangan di rumah dinasnya, termasuk area kamar tidur, ruang tamu, dan ruang makan. Pengungkapan keberadaan alat sadap tersebut pertama kali disampaikan oleh mantan Sekjen PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo.
6. François Hollande (Prancis)
Presiden Prancis François Hollande menjadi salah satu pimpinan Prancis yang komunikasinya dipantau oleh National Security Agency (NSA) Amerika Serikat. Dokumen WikiLeaks yang dirilis pada Juni 2015 mengungkap bahwa intelijen AS mengincar informasi sensitif seputar krisis utang Yunani, zona euro, serta arah kebijakan diplomasi Prancis dengan Jerman. Terungkapnya skandal ini membuat Hollande memanggil Duta Besar AS dan meminta penjelasan langsung dari Presiden Barack Obama.
7. Angela Merkel (Jerman)
Kanselir Jerman Angela Merkel menjadi sasaran pengawasan komunikasi oleh intelijen AS yang beroperasi dari Kedutaan Besar AS di Berlin sejak tahun 2002. Laporan tersebut mencuat pada Oktober 2013 berdasarkan bocoran dokumen Edward Snowden. Merkel merespons keras tindakan tersebut dengan menghubungi Presiden Barack Obama dan menegaskan bahwa penyadapan terhadap komunikasi kepala negara sahabat merupakan tindakan yang tidak dapat diterima serta merusak kepercayaan bilateral.
8. Dilma Rousseff (Brasil)
Presiden Brasil Dilma Rousseff menjadi target penyadapan intelijen Amerika Serikat yang terungkap lewat dokumen Edward Snowden pada September 2013. Pengawasan terhadap komunikasi orang nomor satu di Brasil ini memicu ketegangan diplomatik antara Brasilia dan Washington terkait isu pelanggaran kedaulatan serta privasi pemerintahan.





