Jakarta, Jurnas.com - Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi memperingatkan bahwa kembali pecahnya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dapat memicu konflik yang lebih luas dengan dampak “katastropik” bagi kawasan Timur Tengah. Ia mendesak Washington dan Teheran menunjukkan kelonggaran agar kesepakatan damai dapat dicapai sebelum situasi semakin memburuk.
Peringatan itu disampaikan Sisi dalam konferensi pers bersama Presiden Slovenia Natasa Pirc Musar di Kairo, Selasa. Ia meminta kedua pihak mencari penyelesaian yang dapat mengakomodasi tuntutan dan kekhawatiran masing-masing.
Menurut Sisi, dialog harus menjadi jalan utama untuk mencegah dimulainya kembali operasi militer. Jika pertempuran kembali berlangsung, dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara yang terlibat, tetapi juga dapat meluas ke kawasan lain melalui krisis kemanusiaan dan ekonomi.
“Para pihak harus membuka ruang bagi dialog sebelum semuanya terlambat,” demikian seruan Sisi.
Presiden Mesir itu juga menyebut Presiden AS Donald Trump sebagai “pria perdamaian”. Ia mengaku yakin Trump akan memberikan dukungan yang dibutuhkan para mediator untuk mencapai kesepakatan antara Washington dan Teheran.
Sisi menegaskan Mesir siap bekerja sama dengan mitra regional maupun internasional untuk meredakan ketegangan dan membantu mewujudkan penyelesaian damai.
Dalam kesempatan yang sama, Sisi menolak segala bentuk ancaman terhadap keamanan Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya. Ia menegaskan solidaritas Mesir terhadap negara-negara tersebut.
Pernyataan Sisi muncul ketika Qatar masih menjalankan upaya mediasi antara AS dan Iran. Ketegangan kedua negara antara lain berkaitan dengan blokade laut AS dan keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Iran sebelumnya menyatakan masih bertukar pesan dengan Washington melalui para mediator. Teheran juga menegaskan pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada kesediaan AS mengakhiri blokade laut tersebut.
Ketegangan ini berawal ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Teheran kemudian membalas dengan menargetkan Israel serta aset-aset AS di kawasan sebelum kedua pihak mencapai kesepakatan gencatan senjata pada April.
Upaya menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz sempat menghasilkan nota kesepahaman antara AS dan Iran pada 18 Juni. Dokumen tersebut memuat kesepakatan mengenai kebebasan navigasi di selat strategis itu.
Namun, pelaksanaannya terhenti akibat perbedaan pandangan mengenai pengaturan keamanan di Selat Hormuz. Situasi tersebut membuat upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan masih menghadapi tantangan. (*)
Sumber: Anadolu






